Jakarta-Mediadelegasi: Presiden Prabowo Subianto membatalkan kehadirannya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Kanada. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (KCP), Hasan Nasbi,
menjelaskan bahwa pembatalan ini disebabkan oleh bentroknya jadwal dengan undangan kenegaraan lainnya yang sudah terjadwal lebih dahulu. Keputusan ini didasarkan pada prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan berfokus pada keuntungan ekonomi bagi negara.
Undangan KTT G7 yang diterima awal Juni, berbenturan dengan undangan dari Rusia untuk menghadiri St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF). Undangan SPIEF, yang diterima sejak Maret atau April.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
membutuhkan persiapan yang panjang karena Presiden Prabowo dijadwalkan berpidato di forum tersebut. Selain itu, Presiden juga telah dijadwalkan menghadiri pertemuan tahunan di Singapura yang akan menghasilkan 10 kerja sama strategis.
Pemerintah Indonesia memprioritaskan komitmen yang telah terjalin lebih lama, termasuk dengan Rusia dan Singapura. Komitmen dengan Rusia telah disepakati jauh-jauh hari,
sementara pertemuan tahunan di Singapura merupakan agenda rutin yang sudah lama dipersiapkan. Oleh karena itu, pembatalan KTT G7 merupakan keputusan yang didasarkan pada pertimbangan prioritas komitmen yang telah ada.
Indonesia menekankan komitmennya pada kebijakan luar negeri yang bebas aktif dan tidak berpihak pada blok tertentu. Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai forum internasional, termasuk BRICS dan upaya bergabung dengan OECD, bertujuan untuk memperoleh manfaat ekonomi bagi negara.
Keanggotaan dalam blok ekonomi menjadi prioritas utama, bukan keikutsertaan dalam blok militer atau pertahanan.
Dengan demikian, pembatalan KTT G7 bukan berarti Indonesia kurang berkomitmen pada kerja sama internasional, melainkan mencerminkan strategi politik luar negeri yang pragmatis dan berorientasi pada kepentingan nasional,
khususnya dalam hal ekonomi. Indonesia akan terus berupaya untuk menjalin kerja sama yang saling menguntungkan dengan berbagai negara dan organisasi internasional.D|Red
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.












