Medan-Mediadelegasi : Di lereng Gunung Pusuk Buhit, tempat yang sakral bagi masyarakat Batak, seorang mantan Bupati Samosir bernama Wilmar Eliaser Simandjorang memilih jalan sunyi. Pria berusia 71 tahun ini tak berpaling dari luka tanah kelahirannya, terus menulis, menanam, dan bersuara tentang kondisi Danau Toba yang memprihatinkan.
Wilmar Eliaser Simandjorang, mantan Bupati Samosir, menolak berpaling dari luka tanah kelahirannya. Mantan Bupati Samosir, Sumatera Utara, ini memilih jalan sunyi di lereng Gunung Pusuk Buhit, tempat yang sakral bagi masyarakat Batak, untuk menulis, menanam, dan terus bersuara ihwal kondisi Danau Toba.

Setiap tiga hari sekali, Wilmar menulis tentang penderitaan Danau Toba. Tentang langit yang penuh asap, air yang tak lagi layak minum, hingga hutan yang hangus dalam semalam. Salah satunya, terbit di Independent Observer, saat dia mendesak pengarusutamaan Geopark.
“Kalau kita tidak memperhatikan ini, maka Danau Toba tinggal kenangan,” katanya kepada Mongabay.
Setelah pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil, dia sibuk membagi bibit pohon, mendampingi masyarakat, dan menginisiasi gerakan pemulihan hutan secara swadaya.
“Waktu itu saya tidak menanam sendiri, tapi memotivasi warga agar sadar bahwa menanam pohon itu menanam masa depan mereka sendiri,” katanya kepada Mongabay.
Dia mulai gerakan itu dari Kabupaten Samosir, kemudian meluas ke wilayah lain di sekitar Danau Toba. Fokusnya, pada kawasan-kawasan rawan longsor dan kritis, terutama di daerah aliran sungai.
Misinya itu dia lakukan sambil menggerakkan komunitas untuk melakukan penanaman berkelanjutan, mengedukasi tentang pentingnya tutupan hutan, hingga menjaga bibit agar bisa tumbuh dan berbuah.
Musim kemarau jadi musuhnya, terutama dua tahun terakhir. Kondisi ini, katanya, memicu kebakaran hutan yang melahap sebagian besar tanaman yang sudah mulai berbuah.
Tidak menyerah, Wilmar terus menyalurkan bibit pohon, berjejaring dengan pembibitan swasta dan lembaga pemerintah, hingga menanam dari kantong pribadinya.
“Kebanyakan pohon saya dapat dari UPT Kementerian Kehutanan atau bantuan pihak swasta. Ada juga yang saya beli sendiri,” katanya.
Pria yang pernah jadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini juga melatih warga untuk membuat peta vegetasi sederhana, mengenali fungsi pohon-pohon hutan, serta mengenalkan agroforestri berbasis komunitas.
Pelibatan masyarakat, katanya, penting karena dia menolak pendekatan konservasi top-down yang kerap meminggirkan masyarakat lokal.
“Saya percaya hutan akan lestari jika masyarakat merasa itu bagian dari hidup mereka.”
Kerja-kerja senyap yang dia mulai sejak 2010 itu pun bergaung ke luar Danau Toba. Dia bahkan memperoleh sejumlah penghargaan dari Pemerintah Sumatera Utara hingga pusat, termasuk dari Menteri Lingkungan Hidup.
Baginya, penghargaan bukanlah tujuan dari apa yang dia kerjakan. Itu sebabnya, dia termasuk salah satu pegiat lingkungan yang pernah mengembalikan penghargaan sebagai bentuk protes.
Bersama dua rekannya, dia pernah mengembalikan penghargaan Wana Lestari dan Kalpataru ke Sekretariat Negara. Aksi itu dia lakukan karena merasa pemerintah tidak merespons serius perjuangan mereka menyelamatkan lingkungan kawasan Danau Toba.
“Saya sendiri dapat Wana Lestari, tapi Kalpataru itu untuk teman saya. Kami kembalikan, karena waktu itu pemerintah seperti tidak peduli dengan laporan-laporan kami,” katanya.
Tak hanya soal menanam, Wilmar juga konsisten mendorong penegakan hukum lingkungan. Dia aktif melaporkan praktik penebangan liar dan galian ilegal yang mengancam kelestarian hutan di sekitar Danau Toba. Sebagian kasus sempat masuk proses hingga ke pengadilan, meskipun sebagian besar masih menggantung.
Upaya itu membuatnya tidak disukai banyak pihak. Dia bercerita pernah dapat ancaman, bahkan nyaris kena parang di tengah hutan, saat sedang mengamati aktivitas pembalakan liar. Salah satunya karena dia merekam aktivitas truk yang membawa kayu dari kawasan hutan Tele di Toba. Ancamannya bukan hanya menyasar dirinya, tapi juga keluarganya.
“Waah, diancam, termasuk-lah anak saya, kami sudah dikerja kejar hingga ke dalam hutan karena kami mengamati pembawa kayu-kayu besar.”
Pria tiga putra dan satu putri ini tidak kapok. Dia tetap melanjutkan langkahnya, dengan keyakinan alam butuh pembela.

Wilmar bilang, kondisi hutan di sekitar Danau Toba sudah mengkhawatirkan. Wilayah yang seharusnya menjadi penyangga dan daerah tangkapan air justru menyusut, baik karena praktik pembukaan hutan ilegal maupun alih fungsi lahan.
Kini, meski usianya terus bertambah, Dia masih menanam, masih bersuara, dan masih setia menjaga kawasan yang dia sebut ‘berkat yang Tuhan amanahkan’.
Dia tidak menunggu panggung, apalagi imbalan. Dia hanya ingin Danau Toba tetap hidup, bukan menjadi genangan air raksasa yang kehilangan jiwa hutannya.
“Kawasan Danau Toba ini sudah merintih, kalau tidak segera dikonservasi, dihijaukan dan atasi limbah lingkungannya, Danau Toba akan jadi kubangan raksasa.”
Aktivitasnya memulihkan Danau Toba yang Wilmar jalankan membuatnya paham betul seberapa rusak Danau Purba ini. Dia menyebut, indeks kualitas lingkungan kawasan Danau Toba hanya mencapai 60 dari 100 sejak 2012. Saat ini, pun angkanya di bawah 50.
Pemicunya, kerusakan di hulu yang terjadi secara legal maupun ilegal. Tidak lagi ada yang menanam, justru, masif penebangan.
Kondisi itu membuat Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia ini bertahun-tahun seakan ‘menangis di padang sunyi’. Bagi dia, kerusakan Danau Toba bukan hanya soal lingkungan, juga budaya. Saat ini, masyarakat lokal sudah kehilangan banyak nilai luhur tentang keselarasan hidup dengan alam.
Padahal, dulu ada larangan adat tokka, gotong royong, saling menanam pohon, hingga menahan diri tidak merusak kawasan. “Sekarang semua tinggal cerita.”
Masyarakat, saat ini sudah apatis. Dia bilang, ada semacam kemiskinan struktural, di mana warga terbiasa miskin dan tak sadar adanya pemiskinan.
Masyarakat pun, terbiasa dengan kerusakan dan tidak sadar bahwa usaha menjauhkan mereka dari kehidupannya.
“Ada juga kemiskinan karakter. Yang penting tanam cepat, panen cepat, pakai pupuk kimia. Lahan dibakar, tanaman ditanam. Padahal itu membunuh tanah.”






