Rupiah Diprediksi Terus Melemah, Sentimen Pergantian Menkeu Jadi Sorotan

- Penulis

Rabu, 24 September 2025 - 12:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Rupiah Masih Bakal Melemah. (Foto : Ist.)

Ilustrasi Rupiah Masih Bakal Melemah. (Foto : Ist.)

Medan-Mediadelegasi : Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan melanjutkan tren pelemahannya dalam beberapa waktu ke depan. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 16.720 hingga Rp 16.870 per dolar AS.

Prediksi ini muncul meskipun terdapat beberapa sentimen positif yang seharusnya dapat menopang penguatan rupiah, seperti revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

“Untuk Rupiah sendiri kemungkinan besar di perdagangan hari ini masih akan melemah, ada kemungkinan besar di Rp 16.720 sampai Rp 16.870,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (24/9/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ibrahim menjelaskan bahwa pelemahan rupiah disebabkan oleh kombinasi faktor global dan domestik yang belum stabil. Ketidakpastian ini membuat rupiah sulit untuk menguat secara signifikan.

Salah satu faktor domestik yang menjadi perhatian utama adalah proses penyesuaian pasar terhadap pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa.

Menurut Ibrahim, euforia pasar terhadap kepemimpinan Sri Mulyani belum sepenuhnya beralih ke Purbaya. Hal ini menciptakan keraguan di kalangan investor.

“Indikasi tentang ekonomi di Indonesia terutama adalah pasca pergantian antara Sri Mulyani ke Purbaya, ini memang membuat satu penyesuaian dari pelaku pasar yang dulu sempat begitu antusias dengan kebijakan-kebijakan dari Sri Mulyani saat ini sedang sedikit mengalami penurunan,” jelasnya.

BACA JUGA:  Tantangan Ekonomi: Jurus Menkeu Amankan APBN

Ibrahim menilai bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Purbaya Yudhi Sadewa sejauh ini belum memberikan sinyal kuat yang dapat menenangkan pasar.

Kondisi ini membuat rupiah menjadi lebih rentan terhadap guncangan eksternal. Investor saat ini menunggu arah kebijakan fiskal yang lebih jelas agar keyakinan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia kembali meningkat.

“Kemudian di sisi lain pun juga kita melihat bahwa kebijakan-kebijakan saat ini pun juga masih belum diterima oleh pasar, ya apa yang dilakukan oleh Purbaya,” imbuhnya.

Selain faktor domestik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari dinamika global yang semakin kompleks.

Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang melemah sebenarnya membuka peluang bagi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk menurunkan suku bunga pada bulan Oktober.

Namun, pasar global belum memberikan reaksi positif terhadap kemungkinan tersebut. Ketidakpastian mengenai arah kebijakan The Fed masih membayangi pasar keuangan.

Selain itu, konflik geopolitik di Eropa dan Timur Tengah semakin memperburuk kondisi global. Agresi Rusia terhadap Ukraina yang terus berlanjut serta konflik antara Israel dan Hamas di Gaza membuat ketidakpastian global semakin memanas.

BACA JUGA:  Rupiah Kembali Melemah Terhadap Dolar AS, Optimisme Penyelesaian Shutdown di AS Jadi Pemicu

“Di Timur Tengah sendiri kita melihat bahwa pasca PBB diumumkan Israel terus menggempur wilayah-wilayah Jalur Gaza dan ingin menguasai 100% wilayah tersebut,” ungkap Ibrahim.

Ketidakpastian global ini mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman (safe haven), seperti dolar AS. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat, yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.

Dengan berbagai faktor yang membebani rupiah, Ibrahim memperkirakan bahwa tren pelemahan rupiah masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.

Namun, ia juga menekankan bahwa pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Langkah-langkah tersebut antara lain adalah dengan menjaga fundamental ekonomi yang kuat, menarik investasi asing, dan menjaga stabilitas pasar keuangan.

Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan tekanan terhadap rupiah dapat diredam dan nilai tukar rupiah dapat kembali stabil. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

kehilangan KTP elektronik dikenakan sanksi denda
Warga Dairi Tolak “Putar Ulang” Izin Tambang Seng
Dua Bus Transjakarta Adu Banteng di Cipulir
Puasa 1 Ramadan Jatuh Pada 19 Februari 2026
Pemerintah Gelar Sidang Isbat: Menanti Keputusan Resmi Awal Ramadan 1447 H
Prabowo Jamin Stabilitas Pasar Modal Pasca-Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
Pemkab Tapanuli Utara Paparkan Manajemen Talenta ASN di BKN Pusat
Tapanuli Utara Raih Penghargaan UHC Awards Kategori Madya

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 09:54 WIB

kehilangan KTP elektronik dikenakan sanksi denda

Jumat, 27 Februari 2026 - 11:34 WIB

Warga Dairi Tolak “Putar Ulang” Izin Tambang Seng

Senin, 23 Februari 2026 - 11:18 WIB

Dua Bus Transjakarta Adu Banteng di Cipulir

Selasa, 17 Februari 2026 - 21:29 WIB

Puasa 1 Ramadan Jatuh Pada 19 Februari 2026

Selasa, 17 Februari 2026 - 11:07 WIB

Pemerintah Gelar Sidang Isbat: Menanti Keputusan Resmi Awal Ramadan 1447 H

Berita Terbaru