Gempa M 5,6 Guncang Tahuna, Jejak Aktivitas Tektonik Aktif Zona Cotabato Pasca Gempa Besar Filipina

- Penulis

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peta sebaran guncangan gempa (ShakeMap) dari BMKG menunjukkan lokasi episenter gempa berkekuatan Magnitudo 5,6 yang terjadi pada Kamis (11/6/2026) pukul 14.33 WIB, berada di koordinat 4,87 LU dan 125,35 BT, tepatnya di laut sejauh 140 km arah barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, dengan kedalaman hanya 10 km. Foto: BMKG

Peta sebaran guncangan gempa (ShakeMap) dari BMKG menunjukkan lokasi episenter gempa berkekuatan Magnitudo 5,6 yang terjadi pada Kamis (11/6/2026) pukul 14.33 WIB, berada di koordinat 4,87 LU dan 125,35 BT, tepatnya di laut sejauh 140 km arah barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, dengan kedalaman hanya 10 km. Foto: BMKG

Tahuna-Mediadelegasi: Gempa berkekuatan Magnitudo 5,6 kembali mengguncang wilayah perairan dekat Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Kamis (11/6/2026) pukul 14.33.16 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data bahwa pusat gempa atau episenter berada di koordinat 4,87 Lintang Utara dan 125,35 Bujur Timur, tepatnya di laut sejauh 140 kilometer arah barat laut Tahuna.

Berdasarkan laporan resmi, kedalaman hiposenter gempa tercatat hanya 10 kilometer di bawah permukaan dasar laut. Posisi yang relatif dangkal ini menjadi perhatian meski hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa di wilayah Sulawesi Utara. Meski demikian, pihak berwenang tetap mengimbau warga untuk tetap waspada dan siaga terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Peristiwa ini terjadi hanya berselang tiga hari setelah gempa dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,8 mengguncang wilayah yang berdekatan, tepatnya di kawasan Selat Moro, Filipina, pada Senin (8/6/2026) lalu. Gempa besar tersebut tidak hanya dirasakan hebat di Filipina, tetapi sempat memicu peringatan tsunami yang dikhawatirkan berdampak hingga ke wilayah Indonesia, Jepang, dan Australia.

Dampak kerusakan akibat gempa di Filipina sangat parah. Berdasarkan data yang dihimpun, sedikitnya 35 orang meninggal dunia, 134 lainnya terluka, dan sekitar 10.000 keluarga terpaksa harus mengungsi. Banyak bangunan hancur rata dengan tanah, termasuk sebuah gerai restoran cepat saji yang terkenal, serta tanah longsor yang menutup akses jalan di beberapa wilayah terdampak, terutama di Pulau Mindanao.

BACA JUGA:  Si Buaya Tinggian: Reptil 4 Meter Berakhir di Tangan Nelayan

Pulau Mindanao sendiri merupakan wilayah terbesar kedua di Filipina dengan populasi sekitar 26 juta jiwa. Secara geografis, kawasan ini berada tepat di jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, jalur yang terkenal dengan aktivitas gunung berapi dan gempa bumi yang sangat tinggi, sehingga menjadikan wilayah ini rawan bencana seismik setiap saat.

Menanggapi rangkaian peristiwa ini, Pengamat Kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, memberikan penjelasan mendalam mengenai latar belakang geologis wilayah tersebut. Ia menyebutkan bahwa kawasan Teluk Moro di selatan Filipina merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas tektonik paling kompleks dan aktif di dunia.

Secara geologi, wilayah ini didominasi oleh Zona Subduksi Cotabato, sebuah sistem palung laut yang sangat aktif. Di wilayah ini, Lempeng Laut Sulawesi terus bergerak menunjam ke bawah Lempeng Mikro Mindanao. Interaksi antar lempeng inilah yang menjadi sumber utama pelepasan energi gempa bumi besar yang berulang kali terjadi sepanjang sejarah.

Daryono mengingatkan kembali pada sejarah kelam gempa besar pada 17 Agustus 1976 dengan kekuatan M 8,0. Peristiwa itu merupakan pelepasan energi masif akibat pergerakan lempeng, berjenis megathrust atau sesar naik. Pergerakan vertikal dasar laut saat itu sangat besar hingga memicu tsunami dahsyat yang ketinggian gelombangnya mencapai 9 meter di wilayah pesisir, dan menyebabkan 90% korban jiwa akibat tersapu air, bukan guncangan.

Setelah jeda aktivitas yang cukup panjang pasca tahun 1976, Daryono menegaskan bahwa zona ini kembali menunjukkan tanda-tanda reaktivitas tinggi. Deretan gempa besar seperti pada tahun 2002 (M 6,8), tahun 2023, hingga gempa M 7,8 pada 8 Juni 2026 lalu membuktikan bahwa sistem ini terus mengalami akumulasi dan pelepasan tekanan energi secara berkelanjutan.

BACA JUGA:  Roy Suryo Cs Desak Uji Forensik Ulang Ijazah Jokowi, Singgung Kasus Sambo

Analisis mekanisme sumber gempa terbaru tanggal 8 Juni 2026 menunjukkan pola pergerakan naik (thrusting) yang konsisten dengan karakteristik zona subduksi Cotabato. Dengan kedalaman 35 kilometer, gempa itu terjadi tepat di antarmuka pertemuan dua lempeng utama, yang menandakan bahwa zona ini belum sepenuhnya melepaskan seluruh energi yang tersimpan.

Kedekatan lokasi episenter gempa terbaru dengan lokasi gempa besar tahun 1976 mengindikasikan dua kemungkinan: zona ini masih menyimpan energi seismik yang belum habis dilepaskan, atau terjadi pergeseran patahan kembali pada segmen yang berbeda, khususnya di bagian timur zona tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa wilayah perbatasan Indonesia-Filipina kembali berguncang.

Secara keseluruhan, peningkatan aktivitas di zona ini menegaskan risiko tsunami yang selalu mengintai karena karakteristik pergerakan lempeng dan bentuk dasar laut Teluk Moro yang dapat memperkuat gelombang. Daryono menekankan pentingnya sistem pemantauan real-time dan mitigasi berbasis siklus gempa, agar kesiapsiagaan tidak hanya bersifat reaktif saat bencana datang, tetapi sudah terencana jauh sebelumnya demi keselamatan masyarakat di wilayah pesisir. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah Lakukan Penataan MBG Selama Sebulan: Atasi Pembengkakan Titik Layanan & Jamin Keamanan Pangan
Mahasiswa Jabodetabek Gelar Aksi Besar di Bundaran HI, Bawa 5 Tuntutan Kritis Pemerintah
Kejagung Sita Dokumen dan Barang Elektronik dari 6 Lokasi, Tiga Mantan Petinggi BGN Tersangka Korupsi MBG
KPK Tangkap Tangan Dua Pihak Terkait Suap di BPK, Berlanjut dari Kasus Bupati Muara Enim
KSP Dudung: Negara Belum Tentu Ganti Dana Talangan Pengusaha Dapur BGN, SK Pejabat Lama Melanggar Aturan
Empat Prajurit BAIS TNI Divonis Penjara 1,5–3 Tahun Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, Dua Dipecat
Kasus Penipuan Umrah Hanania Group: Korban Capai 687 Orang, Polisi Periksa Saksi Hingga Selebgram
Nadiem Makarim Yakin Bebas Murni: Empat Unsur Korupsi Tak Terbukti, Ini Harapan di Sidang Terakhir
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 16:30 WIB

Pemerintah Lakukan Penataan MBG Selama Sebulan: Atasi Pembengkakan Titik Layanan & Jamin Keamanan Pangan

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:45 WIB

Gempa M 5,6 Guncang Tahuna, Jejak Aktivitas Tektonik Aktif Zona Cotabato Pasca Gempa Besar Filipina

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:10 WIB

Mahasiswa Jabodetabek Gelar Aksi Besar di Bundaran HI, Bawa 5 Tuntutan Kritis Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 - 13:55 WIB

Kejagung Sita Dokumen dan Barang Elektronik dari 6 Lokasi, Tiga Mantan Petinggi BGN Tersangka Korupsi MBG

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:53 WIB

KSP Dudung: Negara Belum Tentu Ganti Dana Talangan Pengusaha Dapur BGN, SK Pejabat Lama Melanggar Aturan

Berita Terbaru