Fakta Baru, Dugaan Pemerkosaan Putri Kandung di Selambo

Fakta Baru, Dugaan Pemerkosaan Putri Kandung di Selambo
Terdakwa SRP saat bertemu kuasa hukumnya Ricky Panjaitan dari Kantor PTRP & Associated Lawfirm. Foto: Ist

Mendengar kabar laporan dugaan pemerkosaan itu, para tetangga dan warga Selambo akhirnya mendatangi korban dan menanyakan kebenaran perkosaan itu. Di hadapan warga, korban mengakui ayahnya tidak ada memperkosanya. Dia mengakui pernah disetubuhi seseorang bermarga Hutapea. Hal itu pun membuat warga geram karena akibat tuduhan itu warga sempat menghakimi SRP dan membawanya ke Polresta Medan.

“Pengakuan korban itu juga direkam pakai ponsel. Itulah salah satu bukti atau fakta baru yang kami peroleh. Selain rekaman video, surat pernyataan warga yang menyaksikan pengakuan LY Boru RP itu pun dibuat secara tertulis bermaterai dan  stempel cap jari,” kata Ricky lagi.

Menurut Ricky, sejak awal kasus tersebut SRP didampingi kuasa hukum dari salah satu LBH. PTRP Lawfirm baru menjadi kuasa hukum tanggal 8 Februari 2024, pada saat agenda persidangan sudah pada tahap nota pembelan.

Bacaan Lainnya

Disebutkan Ricky, pada saat sidang di PN Lubukpakam dengan agenda pembacaan pledoi, PTRP Lawfirm pun memohon kepada majelis hakim untuk menyerahkan bukti dan fakta-fakta baru, yaitu surat pernyataan warga yang menyaksikan pengakuan LY boru RP bahwa tidak pernah diperkosa oleh SRP, foto dan rekaman video.

Selain itu fakta baru yang terkesan diabaikan polisi dan jaksa adalah hasil visum yang dikeluarkan salah satu dokter di RS Pirngadi Medan yang menyimpulkan robeknya selaput dara korban bukanlah hasil dari suatu tindakan pemaksaan atau pemerkosaan.

PTRP Lawfirm juga menyerahkan pendapat ahli forensik dan medikolega dari RS Adam Malik untuk mencermati kesimpulan hasil visum yang dikeluarkan dokter RS Pirngadi.  Ahli tersebut juga berpendapat bahwa hasil visum itu tidak dapat dikatakan bahwa itu adalah suatu tindak pemerkosaan. Pendapat dokter ahli itu  tersebut dibuat secara tertulis.

“Dalam visum itu dituliskan, robeknya selaput dara korban itu sudah terjadi sejak lama karena tidak ada tanda-tanda trauma akibat pemaksaan sebuah benda yang memasukinya. Tapi bukti-bukti dan fakta baru yang kami temukan tidak lagi menjadi pertimbangan hakim,alasannya agenda pemeriksaan saksi dan barang bukti sudah selesai,” bebernya.

Sedangkan kejanggalan yang dicurigai dalam kasus itu antara lain pemerkosaan dikatakan terjadi di akhir bulan Juli 2023 sesuai surat dakwaan jaksa, tapi  tidak ada reaksi dari isteri SRP atau ibu korban termasuk pihak keluarga. Dua bulan kemudian atau tanggal 3 September 2023 disebutkan kembali terjadi pemerkosaan,  barulah  tanggal 5 September 2023 kasus itu dilaporkan ke polisi.

“Sampai sekarang klien kami SRP masih belum mengerti skenario apa yang dilakukan isterinya dan putrinya sehingga tega memfitnah dirinya. Padahal akibat peristiwa itu klien kami sempat menjadi bulan-bulanan warga Selambo. Harga dirinya dan martabatnya hancur dan kini harus mendekam di penjara,“ kata Ricky seraya menggugah hakim untuk tidak mengorbankan orang yang tidak bersalah. D|Red

Pos terkait