Jakarta-Mediadelegasi : Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini mengadakan pertemuan dengan mantan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, di tengah kontroversi yang sedang berlangsung seputar kereta cepat Jakarta-Bandung, Whoosh.
Pertemuan tersebut berlangsung di Istana Kepresidenan di Jakarta pada Senin sore, berlangsung kurang lebih dua jam secara tertutup.
Laporan yang saling bertentangan telah muncul mengenai topik yang dibahas selama pertemuan tersebut. Jonan, setelah keluar dari Istana Kepresidenan, membantah bahwa proyek Whoosh menjadi pokok pembahasan.
“Tidak, saya tidak dimintai masukan apa pun tentang itu,” katanya kepada wartawan. Ketika ditanya tentang perspektifnya mengenai masalah utang seputar Whoosh, Jonan menolak berkomentar, dengan alasan pengunduran dirinya dari Kementerian Perhubungan dan kurangnya kapasitas saat ini untuk memberikan wawasan yang relevan.
Sebaliknya, Jonan mengklaim kunjungannya adalah dalam kapasitas sebagai warga negara biasa, membahas program-program prioritas pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kopdes Merah Putih, dan Sekolah Rakyat.
Dia menekankan potensi pertumbuhan ekonomi bertahap melalui inisiatif ini, sambil mengakui ketidaksempurnaan awal dalam implementasinya.
Namun, Presiden Prabowo memberikan keterangan yang berbeda, menegaskan bahwa proyek Whoosh memang menjadi topik pembahasan selama pertemuan dengan Jonan.
Menambahkan lapisan lain ke narasi tersebut, Menteri Agraria dan Tata Ruang saat ini Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebutkan bahwa kontroversi utang Whoosh termasuk di antara masalah yang dibahas dalam sesinya dengan Prabowo, mengklarifikasi bahwa pertemuannya terjadi secara terpisah dari Jonan.
Ignasius Jonan memainkan peran penting dalam menyetujui proyek Whoosh selama masa jabatannya sebagai Menteri Perhubungan dari tahun 2014 hingga 2016. Meskipun menghadapi tantangan, Jonan memprioritaskan standar keselamatan penumpang sebagai persyaratan utama bagi pengembang proyek.
Selama fase penawaran proyek, Jonan memprioritaskan keselamatan di atas nilai investasi, dengan hati-hati membandingkan tawaran dari Tiongkok dan Jepang.
Proposal Jepang mencakup investasi sebesar US$6,2 miliar dengan studi kelayakan yang dilakukan sejak 2014, menjanjikan kereta 320 km/jam dalam waktu lima tahun (2016-2021).
Tiongkok mengajukan tawaran yang lebih rendah sebesar US$5,5 miliar pada tahun 2015, menjanjikan kereta 350 km/jam dalam waktu dua tahun (2016-2018).
Menyusul keberhasilan tawaran Tiongkok dan pembentukan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Jonan mewajibkan sembilan persyaratan prasyarat untuk perjanjian pelaksanaan infrastruktur (konsesi) proyek kereta cepat.
Salah satu syarat utama adalah proyek tersebut tidak dapat menggunakan dana anggaran negara (APBN). Sekitar 75 persen pendanaan proyek berasal dari pinjaman dari China Development Bank (CDB), dengan 25 persen sisanya berasal dari ekuitas atau dana yang dihasilkan sendiri oleh konsorsium. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.







