Honda e:N1: Head-to-Head Indonesia vs Malaysia – Mana yang Lebih Baik?

- Penulis

Sabtu, 17 Mei 2025 - 11:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mobil Listrik Honda e:N1 (Foto : Ist.)

Mobil Listrik Honda e:N1 (Foto : Ist.)

Jakarta-Mediadelegasi : Di tengah hiruk pikuk industri otomotif global yang beralih ke era elektrifikasi, Honda menghadirkan kejutan yang menarik perhatian di dua negara tetangga: Indonesia dan Malaysia. Mobil listrik Honda e:N1, SUV mungil yang desainnya mengingatkan pada HR-V, menawarkan pengalaman kepemilikan yang sangat berbeda di kedua negara tersebut. Di Malaysia, mobil ini dijual secara langsung, sementara di Indonesia, Honda memilih skema berlangganan. Perbedaan ini memicu perdebatan sengit di kalangan pecinta otomotif.

 

Di Malaysia, Honda e:N1 resmi diluncurkan dengan harga yang cukup kompetitif, yakni 149.900 ringgit Malaysia, atau setara dengan sekitar Rp 575 juta (kurs 1 ringgit = Rp 3.837). Harga tersebut tidak termasuk asuransi, namun Honda menawarkan perlindungan delapan tahun atau 160.000 km untuk baterai dan sistem penggerak motor listrik. Ketersediaan unit yang terbatas juga menjadi daya tarik tersendiri, menciptakan atmosfer persaingan di antara calon pembeli.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peluncuran di Malaysia menandai debut perdana Honda e:N1 di pasar Asia Tenggara. Mobil ini sebelumnya telah mencuri perhatian di Kuala Lumpur International Mobility Show pada Desember 2024, dan kini resmi tersedia untuk konsumen di Malaysia. Mobil ini diimpor langsung dari pabrik Dongfeng Honda Automobile di China, sebuah strategi yang umum diterapkan oleh produsen otomotif untuk mengoptimalkan biaya produksi dan distribusi.

 

Namun, di Indonesia, cerita yang berbeda terungkap. Honda e:N1 hadir dengan sistem berlangganan yang unik. Konsumen dapat memiliki mobil ini dengan biaya sewa bulanan sebesar Rp 22 juta selama lima tahun. Setelah masa berlangganan berakhir, konsumen memiliki opsi untuk memiliki mobil tersebut secara penuh, meskipun persyaratannya belum dijelaskan secara detail oleh Honda.

 

Sistem berlangganan ini memicu perdebatan di kalangan konsumen Indonesia. Jika dihitung secara keseluruhan, biaya berlangganan selama lima tahun mencapai Rp 1,32 miliar, jauh lebih mahal dibandingkan harga jual di Malaysia. Namun, Honda menawarkan sejumlah fasilitas menarik dalam paket berlangganan ini.

 

Konsumen akan mendapatkan perangkat pengisian daya di rumah (home charger) dan portable charger, membebaskan mereka dari kekhawatiran akan infrastruktur pengisian daya. Perawatan berkala, asuransi kendaraan, dan pajak tahunan juga sudah termasuk dalam biaya berlangganan bulanan. Layanan purna jual yang responsif juga menjadi nilai tambah yang ditawarkan oleh Honda.

 

Dari sisi performa, Honda e:N1 menawarkan spesifikasi yang cukup mumpuni. Motor listriknya mampu menghasilkan tenaga 204 PS dan torsi 310 Nm, yang disalurkan ke roda depan. Baterai lithium-ion berkapasitas 68,8 kWh menjanjikan daya jelajah hingga 500 km (berdasarkan standar NEDC). Spesifikasi ini menempatkan Honda e:N1 sebagai kompetitor yang cukup tangguh di segmen SUV listrik.

 

Perbedaan strategi penjualan Honda di Indonesia dan Malaysia menimbulkan pertanyaan menarik. Apakah perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan daya beli konsumen, infrastruktur pengisian daya, atau regulasi pemerintah? Analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami alasan di balik perbedaan strategi ini.

 

Strategi berlangganan di Indonesia mungkin ditujukan untuk mengurangi hambatan finansial awal bagi konsumen yang ingin memiliki mobil listrik. Namun, total biaya yang dikeluarkan selama lima tahun terbilang cukup tinggi, menimbulkan perdebatan apakah strategi ini benar-benar efektif.

 

Perbedaan ini juga mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh industri otomotif dalam mendorong adopsi kendaraan listrik di berbagai pasar. Faktor-faktor seperti harga, infrastruktur, dan regulasi pemerintah memainkan peran penting dalam menentukan keberhasilan strategi penjualan mobil listrik. Ke depannya, akan menarik untuk melihat bagaimana Honda dan produsen otomotif lainnya akan beradaptasi dengan dinamika pasar yang terus berkembang ini. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Facebook Comments Box

BACA JUGA:  Erick Thohir Tolak Ubah Statuta PSSI Soal Masa Jabatan Ketua Umum
Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

kehilangan KTP elektronik dikenakan sanksi denda
Warga Dairi Tolak “Putar Ulang” Izin Tambang Seng
Dua Bus Transjakarta Adu Banteng di Cipulir
Puasa 1 Ramadan Jatuh Pada 19 Februari 2026
Pemerintah Gelar Sidang Isbat: Menanti Keputusan Resmi Awal Ramadan 1447 H
Prabowo Jamin Stabilitas Pasar Modal Pasca-Mundurnya Petinggi OJK dan BEI
Pemkab Tapanuli Utara Paparkan Manajemen Talenta ASN di BKN Pusat
Tapanuli Utara Raih Penghargaan UHC Awards Kategori Madya

Berita Terkait

Jumat, 24 April 2026 - 09:54 WIB

kehilangan KTP elektronik dikenakan sanksi denda

Jumat, 27 Februari 2026 - 11:34 WIB

Warga Dairi Tolak “Putar Ulang” Izin Tambang Seng

Senin, 23 Februari 2026 - 11:18 WIB

Dua Bus Transjakarta Adu Banteng di Cipulir

Selasa, 17 Februari 2026 - 21:29 WIB

Puasa 1 Ramadan Jatuh Pada 19 Februari 2026

Selasa, 17 Februari 2026 - 11:07 WIB

Pemerintah Gelar Sidang Isbat: Menanti Keputusan Resmi Awal Ramadan 1447 H

Berita Terbaru