Terbukti Manipulasi Laporan & Pencucian Uang, CEO eFishery Gibran Divonis 9 Tahun Penjara

Rabu, 29 April 2026 - 17:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sidang vonis bos eFishery Gibran Huzaifah. Foto: Ist.

Sidang vonis bos eFishery Gibran Huzaifah. Foto: Ist.

Bandung-Mediadelegasi: Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bandung menjatuhkan hukuman berat kepada pendiri dan CEO startup unicorn eFishery, Gibran Huzaifah. Dalam putusan yang dibacakan pada Rabu (29/4/2026), Gibran dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana manipulasi laporan keuangan hingga pencucian uang, dan divonis 9 tahun kurungan penjara.

Selain hukuman penjara, hakim juga menjatuhkan denda sebesar Rp 1 miliar dengan ketentuan subsider 190 hari kurungan apabila denda tersebut tidak dapat dibayar. Vonis ini dijatuhkan setelah hakim menilai seluruh alat bukti dan fakta persidangan telah memenuhi unsur pidana.

“Mengadili, menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 9 tahun kurungan penjara,” ujar hakim saat membacakan putusannya di ruang sidang PN Bandung.

Perlu diketahui, Gibran tidak diadili sendirian dalam kasus ini. Ia didakwa bersama dengan dua orang lainnya, yaitu Angga Hadrian Raditya dan Andri Yadi, yang juga menjabat posisi strategis di perusahaan tersebut.

Vonis 9 tahun yang diterima Gibran ini sedikit lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan atau requisitoir yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sebelumnya, jaksa menuntut agar Gibran dihukum penjara selama 10 tahun dengan besaran denda yang sama, yaitu Rp 1 miliar.

BACA JUGA:  Dr. Maruli Siahaan Dorong Reformasi Pemasyarakatan Berbasis Dampak dan Percepatan Penanganan Overkapasitas Lapas.

Dalam pertimbangan putusannya, majelis hakim menyatakan Gibran secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama. Tindakan pidana tersebut dijerat menggunakan Pasal 374 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP dalam dakwaan pertama alternatif kedua.

Kasus besar yang menjerat raksasa teknologi perikanan ini bermula dari adanya laporan yang disampaikan oleh whistleblower atau pelapor internal. Laporan tersebut kemudian memicu serangkaian investigasi mendalam terhadap kondisi keuangan perusahaan.

Hasil investigasi awal yang dilakukan oleh lembaga independen, FTI Consulting, menemukan indikasi yang sangat mencengangkan. Terjadi dugaan pemalsuan data pendapatan yang nilainya mencapai hampir USD 600 juta atau setara dengan puluhan triliun rupiah dalam periode sembilan bulan yang berakhir pada September 2024.

Kasus ini mulai mencuat ke publik pada Desember 2024. Media internasional berbasis di Singapura, DealStreetAsia, menjadi yang pertama menerbitkan laporan detail mengenai dugaan fraud atau kecurangan besar-besaran yang dilakukan pihak manajemen.

BACA JUGA:  Kejagung Geledah 4 Perusahaan Milik Don Ritto di Jaksel, Diduga Sarana Pencucian Uang Febrie Adriansyah

Terbongkarnya skandal ini terjadi di saat yang sangat ironis, karena eFishery yang berstatus unicorn (memiliki valuasi di atas USD 1 miliar) tersebut baru saja berhasil mendapatkan suntikan dana atau pendanaan Seri D senilai USD 200 juta dari investor global.

Penyelidikan kasus ini sendiri ditangani secara serius oleh Bareskrim Polri. Berdasarkan hasil pendalaman, ditemukan fakta bahwa dugaan pemalsuan laporan keuangan itu diduga telah dilakukan secara sistematis oleh mantan CEO dan Chief Financial Officer (CFO) sejak awal tahun 2024.

Dengan putusan ini, karir Gibran Huzaifah yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu young leader dan inspirasi di dunia teknologi nasional kini harus berakhir di balik jeruji besi, menjadi pelajaran keras bagi dunia bisnis dan startup mengenai pentingnya integritas dan transparansi. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Brantas Abipraya Tunggak Rp1,5 Triliun ke Subkontraktor, Restitusi Pajak Rp800 Miliar Mandek
KPK Temukan Petunjuk Aliran Uang Kasus HGB Bogor
Banjir Bandang Pasaman Terjang Permukiman, 1 Warga Hilang
Pembayaran KDMP Tertunda, Kemenkeu Tunggu Tagihan Himbara
Puluhan Kepala Sekolah Banyuasin Dikabarkan Terjaring OTT Polda Sumsel
Nusron Wahid Tegaskan Kooperatif Usai OTT KPK
KPK Geledah Summarecon Terkait Kasus HGB Bogor
Febrie Adriansyah Ungkap Dugaan Masukan Keliru ke Prabowo
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 14:25 WIB

Brantas Abipraya Tunggak Rp1,5 Triliun ke Subkontraktor, Restitusi Pajak Rp800 Miliar Mandek

Sabtu, 19 September 2026 - 13:54 WIB

KPK Temukan Petunjuk Aliran Uang Kasus HGB Bogor

Sabtu, 19 September 2026 - 13:17 WIB

Banjir Bandang Pasaman Terjang Permukiman, 1 Warga Hilang

Sabtu, 19 September 2026 - 12:07 WIB

Pembayaran KDMP Tertunda, Kemenkeu Tunggu Tagihan Himbara

Jumat, 18 September 2026 - 15:03 WIB

Nusron Wahid Tegaskan Kooperatif Usai OTT KPK

Berita Terbaru

KPK Dalami Dugaan Aliran Uang dalam Kasus HGB. Foto: Ist.

Nasional

KPK Temukan Petunjuk Aliran Uang Kasus HGB Bogor

Sabtu, 19 Sep 2026 - 13:54 WIB

Banjir bandang merendam kawasan permukiman warga di Nagari Simpang Tonang, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, akibat luapan sungai setelah hujan deras. Foto: Ist.

Nasional

Banjir Bandang Pasaman Terjang Permukiman, 1 Warga Hilang

Sabtu, 19 Sep 2026 - 13:17 WIB

Kemenkeu menyiapkan dana talangan utang Kopdes Merah Putih (KDKMP). Foto: Ist.

Nasional

Pembayaran KDMP Tertunda, Kemenkeu Tunggu Tagihan Himbara

Sabtu, 19 Sep 2026 - 12:07 WIB

Gubernur Sumut Bobby Nasution melantik tiga pejabat eselon II di lingkungan Pemprov Sumut dalam prosesi di Aula Tengku Rizal Nurdin, Jumat (18/9/2026). Foto: Ist.

Sumatera Utara

Bobby Nasution Lantik Tiga Pejabat Eselon II Pemprov Sumut

Jumat, 18 Sep 2026 - 16:41 WIB