Jamaluddin Jompa: Kisah Rektor yang Terus Meneliti dan Menginspirasi Dunia Akademik

- Penulis

Sabtu, 22 November 2025 - 13:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jamaludin Jompa (Foto:Ist)

Jamaludin Jompa (Foto:Ist)

Jakarta-Mediadelegasi : Di antara deretan nama rektor perguruan tinggi Indonesia, Jamaluddin Jompa menjadi sosok yang banyak diperbincangkan. Dalam daftar H-index tertinggi yang dirilis AD Scientific Index, ia menempati posisi kedua secara nasional.

Angka 41 yang diraihnya bukan sekadar deretan digit, melainkan refleksi bahwa sedikitnya 41 karya ilmiahnya telah dikutip minimal 41 kali oleh peneliti lain di seluruh dunia. Di balik angka itu, ada puluhan tahun perjalanan menelusuri pesisir dan pulau-pulau kecil, hidup di laboratorium, berdebat di ruang konferensi, dan menyusun kalimat demi kalimat penelitian yang menjadi rujukan ilmiah global. Jejak yang tidak mungkin dibangun dalam semalam.

Yang membuat daftar ini semakin mencolok bukan hanya posisi Prof. JJ, tetapi nama-nama lain yang berada di bawahnya. Rektor kampus-kampus besar seperti IPB, UI, dan UGM, yang selama ini dianggap sebagai pusat kepemimpinan akademik nasional, justru memiliki angka H-index lebih rendah.

Arif Satria dari IPB berada di angka 29, Heri Hermansyah dari UI di angka 28, dan Ova Emilia dari UGM di angka 25. Angka-angka ini tetap mencerminkan produktivitas ilmiah, namun pada saat yang sama menunjukkan bahwa kekuatan akademik tidak selalu berbanding lurus dengan kemapanan institusi. Kadang, pusat gravitasi ilmu pengetahuan bergerak dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dalam dunia akademik, H-index bukan sekadar ukuran kuantitas publikasi, tetapi juga kualitas pengaruh ilmiah. Ia mencoba menangkap denyut kehidupan seorang ilmuwan di tengah jaringan pengetahuan global. Dengan menggabungkan produktivitas dan dampak sitasi, H-index memperlihatkan seberapa “hidup” sebuah karya dalam percakapan ilmu pengetahuan dunia.

BACA JUGA:  Gubernur Pramono Anung Resmikan Rusun Jagakarsa, Berikan Hunian Layak bagi Masyarakat

Artikel ilmiah hanyalah permulaan; nilai sejatinya baru terlihat ketika karya itu menjadi rujukan, memicu diskusi baru, menginspirasi metode baru, bahkan ikut memengaruhi kebijakan publik. Sitasi adalah bentuk pengakuan kolektif bahwa sebuah gagasan tidak berhenti di meja penulisnya, tetapi bergerak menyeberangi batas negara dan disiplin ilmu.

Karena itulah, H-index sering dipandang sebagai indikator kehadiran intelektual. Ia memperlihatkan seberapa banyak seorang ilmuwan diundang untuk “berbicara” dalam forum global, bukan melalui pidato, tetapi melalui kutipan yang terus mengalir dari satu publikasi ke publikasi lain.

Peneliti dengan H-index tinggi tidak hanya produktif, tetapi menjadi simpul penting dalam jaringan ide, hadir dalam pikiran banyak orang meski tidak berada di ruangan yang sama. Dalam ekosistem ilmiah yang padat dan kompetitif, H-index menjadi kompas untuk mengenali karya yang bertahan, membuka pintu, dan melampaui batas institusi.

Di sinilah letak pertanyaan yang menarik: mengapa seorang rektor dari Indonesia Timur justru mencatatkan H-index lebih tinggi dibanding para pemimpin universitas-universitas besar di Jawa? Jawabannya mungkin terletak pada cara ia memaknai jabatan itu sendiri.

Di banyak kampus besar, rektor kerap tenggelam dalam protokol, rapat, administrasi, dan ritus birokrasi yang tidak pernah berakhir. Suara akademik perlahan meredup. Namun, Prof. JJ memilih jalan berbeda. Ia tidak menempatkan riset sebagai masa lalu yang harus disingkirkan begitu seseorang memasuki ruang jabatan.

BACA JUGA:  Komjak Tinjau Sejumlah Lokasi Tambang Timah

Baginya, riset adalah nadi, denyut yang membuat kampus tetap hidup, seperti gelombang yang terus memberi ritme pada laut yang ia teliti sepanjang hidupnya. Ia meneliti bukan karena tuntutan struktural, tetapi karena keyakinan bahwa universitas yang sehat hanya bisa tumbuh jika pemimpinnya sendiri merasakan getaran pencarian ilmiah.

Ia sering mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal pangkat. Cara ia bekerja membuktikan kalimat itu. Ia tetap berada di laboratorium, tetap melakukan kerja lapangan, tetap berdiskusi dengan mahasiswa pascasarjana yang sedang meraba-raba temuan baru. Ia hadir bukan sebagai atasan, melainkan sebagai sesama peneliti yang masih haus pertanyaan.

Jika dilihat dari sudut itu, angka 41 itu mengandung pesan yang jelas: dari Timur, muncul seorang rektor yang tidak hanya memimpin kampus, tetapi tetap hidup di dalam ilmu pengetahuan. Ia menulis lalu memimpin. Ia meneliti lalu berbicara. Ia tidak meninggalkan dunia akademik demi jabatan, tetapi justru menjadikannya fondasi kepemimpinan.

Universitas Hasanuddin kini bergerak dengan identitas baru. Bukan semata kampus besar di luar Jawa, tetapi laboratorium pengetahuan yang mulai diperhitungkan dunia. Dan di pucuknya berdiri seorang profesor laut yang tidak pernah meninggalkan samudra pengetahuan yang membesarkannya.

Selebihnya, sejarah mungkin akan mencatat bahwa di masa ketika banyak pemimpin perguruan tinggi berhenti meneliti, Jamaluddin Jompa memilih terus menulis. Dan barangkali di situlah letak keunggulannya yang paling sunyi, namun justru yang paling menentukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax
Nama Raffi Ahmad Terseret Dalam Kasus Dugaan Suap Importasi Barang di Bea Cukai
​Kurs Rupiah Terpuruk di Angka Rp18.000, Hasto Kristiyanto Kritik Keras Manajemen Pemerintahan
Tuntut Kepastian Operasional, Investor Dapur SPPG di Wilayah 3T Geruduk Kantor BGN
Rupiah Hancur! Tembus Rp18.175 per Dolar AS
Korlantas Polri Memutuskan Menunda Pelaksanaan Operasi Patuh 2026
Mulai 8 Hingga 21 Juni 2026 Operasi Patuh Digelar Serentak se-Indonesia, Nomor Plat Kendaraan Jadi Prioritas Utama
Daftar Final 23 Pemain Timnas Indonesia: Debut Mathew Baker & Kembalinya Marselino Ferdinan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 07:47 WIB

Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:03 WIB

Nama Raffi Ahmad Terseret Dalam Kasus Dugaan Suap Importasi Barang di Bea Cukai

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:30 WIB

​Kurs Rupiah Terpuruk di Angka Rp18.000, Hasto Kristiyanto Kritik Keras Manajemen Pemerintahan

Selasa, 9 Juni 2026 - 08:26 WIB

Tuntut Kepastian Operasional, Investor Dapur SPPG di Wilayah 3T Geruduk Kantor BGN

Senin, 8 Juni 2026 - 13:02 WIB

Rupiah Hancur! Tembus Rp18.175 per Dolar AS

Berita Terbaru