Di sinilah letak pertanyaan yang menarik: mengapa seorang rektor dari Indonesia Timur justru mencatatkan H-index lebih tinggi dibanding para pemimpin universitas-universitas besar di Jawa? Jawabannya mungkin terletak pada cara ia memaknai jabatan itu sendiri.
Di banyak kampus besar, rektor kerap tenggelam dalam protokol, rapat, administrasi, dan ritus birokrasi yang tidak pernah berakhir. Suara akademik perlahan meredup. Namun, Prof. JJ memilih jalan berbeda. Ia tidak menempatkan riset sebagai masa lalu yang harus disingkirkan begitu seseorang memasuki ruang jabatan.
Baginya, riset adalah nadi, denyut yang membuat kampus tetap hidup, seperti gelombang yang terus memberi ritme pada laut yang ia teliti sepanjang hidupnya. Ia meneliti bukan karena tuntutan struktural, tetapi karena keyakinan bahwa universitas yang sehat hanya bisa tumbuh jika pemimpinnya sendiri merasakan getaran pencarian ilmiah.
Ia sering mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal pangkat. Cara ia bekerja membuktikan kalimat itu. Ia tetap berada di laboratorium, tetap melakukan kerja lapangan, tetap berdiskusi dengan mahasiswa pascasarjana yang sedang meraba-raba temuan baru. Ia hadir bukan sebagai atasan, melainkan sebagai sesama peneliti yang masih haus pertanyaan.
Jika dilihat dari sudut itu, angka 41 itu mengandung pesan yang jelas: dari Timur, muncul seorang rektor yang tidak hanya memimpin kampus, tetapi tetap hidup di dalam ilmu pengetahuan. Ia menulis lalu memimpin. Ia meneliti lalu berbicara. Ia tidak meninggalkan dunia akademik demi jabatan, tetapi justru menjadikannya fondasi kepemimpinan.
Universitas Hasanuddin kini bergerak dengan identitas baru. Bukan semata kampus besar di luar Jawa, tetapi laboratorium pengetahuan yang mulai diperhitungkan dunia. Dan di pucuknya berdiri seorang profesor laut yang tidak pernah meninggalkan samudra pengetahuan yang membesarkannya.
Selebihnya, sejarah mungkin akan mencatat bahwa di masa ketika banyak pemimpin perguruan tinggi berhenti meneliti, Jamaluddin Jompa memilih terus menulis. Dan barangkali di situlah letak keunggulannya yang paling sunyi, namun justru yang paling menentukan.






