Pengelolaan Whoosh Beralih ke Kemenkeu Mulai September 2026, Dikelola Lewat SMV Agar Tak Bebani APBN

Senin, 24 Agustus 2026 - 16:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kereta Cepat Whoosh: Mulai September 2026, pengelolaan KCIC selaku operator Whoosh akan beralih ke bawah naungan Kementerian Keuangan melalui skema Special Mission Vehicle guna mempercepat penanganan utang proyek tanpa membebani APBN secara langsung. Foto: Ist.

Kereta Cepat Whoosh: Mulai September 2026, pengelolaan KCIC selaku operator Whoosh akan beralih ke bawah naungan Kementerian Keuangan melalui skema Special Mission Vehicle guna mempercepat penanganan utang proyek tanpa membebani APBN secara langsung. Foto: Ist.

Jakarta-Mediadelegasi: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan bahwa pengelolaan Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh akan resmi beralih ke bawah naungan Kementerian Keuangan mulai September 2026. Pengambilalihan pengelolaan tersebut akan dilakukan melalui lembaga Special Mission Vehicle (SMV) di lingkungan Kemenkeu, dengan tujuan mempercepat penanganan utang proyek sekaligus menjaga agar beban keuangan negara tidak langsung menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Purbaya melalui unggahan akun media sosial miliknya pada Minggu, 23 Agustus 2026. Dalam keterangannya, ia menyertakan pengalaman baru saja menempuh perjalanan naik Whoosh bersama istri menuju Bandung, sebelum kemudian menyampaikan informasi penting terkait perubahan pengelolaan layanan kereta cepat andalan masyarakat tersebut.

“Selamat malam guys. Siang tadi saya dan istri otw Bandung naik Whoosh. Bulan September nanti, pengelolaan Kereta Cepat Whoosh akan berada di bawah Kemenkeu,” tulis Purbaya melalui akun TikTok-nya, sekaligus menjelaskan alasan utama dipilihnya skema pengelolaan melalui SMV Kemenkeu.

Menurut Purbaya, penanganan utang proyek Whoosh akan jauh lebih cepat jika dikelola melalui SMV. Selain itu, skema ini dirancang secara khusus agar penanganan utang tidak membebani APBN secara langsung. Dengan kata lain, walaupun dikelola oleh pemerintah melalui Kemenkeu, dampak keuangannya tidak akan langsung tercatat sebagai beban anggaran negara.

“Pengelolaan dilakukan lewat Special Mission Vehicle (SMV) Kemenkeu agar penanganan utang lebih cepat dan tidak membebani APBN secara langsung,” tegas Purbaya menjelaskan logika di balik pemilihan jalur pengelolaan tersebut. Rencana ini ternyata sudah dibahas sejak awal Agustus dalam pertemuan Purbaya dengan Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, di Kantor Kemenkeu.

BACA JUGA:  Purbaya Yudhi Sadewa Akan Tempatkan Puluhan Triliun Dana SAL di Bank Jakarta

Purbaya menjelaskan bahwa nantinya akan digunakan dua lembaga SMV fiskal yang sudah dimiliki Kemenkeu untuk mengelola aset dan utang Whoosh. Terdapat sejumlah lembaga SMV yang siap diperankan perannya, sehingga pengelolaan dapat berjalan tanpa membebani anggaran negara secara langsung. “Jadi walaupun dikelola oleh pemerintah, tidak akan membebani APBN,” tambahnya.

Saat ini, kepemilikan saham BUMN di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), selaku pengelola operasional Whoosh, berada di bawah konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang menguasai 60 persen saham. Sementara 40 persen sisanya dimiliki konsorsium pihak China, Beijing Yawan HSR Co. Ltd. PSBI sendiri beranggotakan KAI, Wijaya Karya, Jasa Marga, dan Perkebunan Nusantara VIII.

Dari keempat anggota konsorsium Indonesia, PT Kereta Api Indonesia (Persero) tercatat sebagai pemegang saham mayoritas KCIC dengan porsi kepemilikan mencapai 51,37 persen. Namun setelah pengambilalihan ini selesai, status kepemilikan maupun pengelolaan KCIC akan berpindah ke bawah naungan SMV Kemenkeu, dan tidak lagi berada di bawah KAI.

“(Nanti kepemilikan KCIC) di saya. Bukan (di bawah KAI lagi),” ujar Purbaya menegaskan perubahan struktur kepemilikan yang akan terjadi pasca pengalihan pengelolaan ke Kemenkeu. Langkah ini sekaligus menandai perubahan besar dalam tata kelola proyek strategis nasional tersebut.

BACA JUGA:  Restrukturisasi Utang Whoosh Dikelola Kemenkeu, Okupansi Naik Imbas Kecelakaan Bekasi

Sebagai gambaran, total investasi pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung mencapai sekitar 7,27 miliar dolar AS atau setara Rp 120,38 triliun. Sebanyak 75 persen dari biaya tersebut dibiayai melalui pinjaman China Development Bank dengan skema bunga tetap selama 40 tahun sebesar 2 persen per tahun, angka yang sebenarnya lebih tinggi dibandingkan tawaran Jepang yang hanya 0,1 persen per tahun.

Beban utang proyek Whoosh ternyata belum berhenti di angka tersebut. Pembengkakan biaya atau cost overrun tercatat mencapai 1,2 miliar dolar AS, yang sebagian besar juga ditutup melalui tambahan pinjaman dari sumber yang sama dengan suku bunga lebih tinggi lagi, yakni di atas 3 persen per tahun. Porsi beban tambahan ini dibagi 60 persen ditanggung pihak Indonesia dan 40 persen pihak China sesuai porsi saham.

Rincian utang porsi Indonesia tercatat sebesar 542,7 juta dolar AS, terbagi atas pinjaman dolar AS dan mata uang yuan dengan tingkat bunga berkisar 3,1–3,2 persen. Dengan dialihkannya pengelolaan ke Kemenkeu melalui SMV, diharapkan penanganan seluruh beban utang ini dapat terselesaikan secara lebih terencana, cepat, dan tidak membebani anggaran negara secara langsung. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Penulis : Miranda

Editor : Alan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Hadiri KTT BRICS ke-18 di New Delhi, Disambut Pelukan Hangat PM Modi
Polisi Ungkap Tiga Klaster Pendanaan Kerusuhan 27 Agustus: Dibayar Rp40.000–Rp70.000 per Orang
KPK Sita Rp3,5 Miliar dari Ahmad Ali, Jejak Dana Gratifikasi Batu Bara Kukar Makin Terang
Pengacara Roy Suryo: Praperadilan Ganti Rugi Berpotensi Cacat Formil
Kubu Gus Alex Minta Jokowi Dipanggil Jadi Saksi dalam Sidang Korupsi Kuota Haji
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Tetap Siaga Level III
Kasus Siswi Keracunan MBG Hilang Ingatan di Karo Serius, DPR Desak Audit Total SPPG
Amnesty Internasional Desak Program MBG Dihentikan Usai Siswi di Karo Hilang Ingatan
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 17:05 WIB

Prabowo Hadiri KTT BRICS ke-18 di New Delhi, Disambut Pelukan Hangat PM Modi

Sabtu, 12 September 2026 - 16:34 WIB

Polisi Ungkap Tiga Klaster Pendanaan Kerusuhan 27 Agustus: Dibayar Rp40.000–Rp70.000 per Orang

Sabtu, 12 September 2026 - 11:08 WIB

KPK Sita Rp3,5 Miliar dari Ahmad Ali, Jejak Dana Gratifikasi Batu Bara Kukar Makin Terang

Jumat, 11 September 2026 - 16:05 WIB

Pengacara Roy Suryo: Praperadilan Ganti Rugi Berpotensi Cacat Formil

Kamis, 10 September 2026 - 16:01 WIB

Kubu Gus Alex Minta Jokowi Dipanggil Jadi Saksi dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

Berita Terbaru

Alat berat diturunkan untuk menangani longsor di Dusun II, Desa Tiga Juhar, Kecamatan STM Hulu, Kabupaten Deli Serdang. Foto: Ist.

Kabupaten Deli Serdang

Jalan Provinsi Longsor di STM Hulu Deli Serdang, Pemkab Siapkan Jalur Alternatif

Sabtu, 12 Sep 2026 - 13:58 WIB