Jakarta-Mediadelegasi: Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026). Mata uang nasional turun 28 poin ke posisi Rp18.184 per dolar AS. Pelemahan ini didorong kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang saling memperberat tekanan.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pelaku pasar bersikap berhati-hati menjelang pengumuman kebijakan suku bunga The Fed. Lonjakan harga minyak mentah dunia memperumit gambaran inflasi global, sehingga arah kebijakan moneter AS menjadi ketidakpastian yang membebani aset pasar berkembang.
“Pelemahan rupiah pada penutupan hari ini terutama dipengaruhi sikap pasar yang mengantisipasi keputusan kebijakan The Fed, di mana lonjakan harga minyak mentah kian memperumit kalkulasi inflasi dan arah suku bunga acuan mereka,” ujar Ibrahim.
Dari sisi dalam negeri, harga minyak mentah yang bertahan di atas US$100 per barel memicu tekanan inflasi melalui biaya produksi dan tarif transportasi. Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit APBN akibat membengkaknya belanja subsidi energi, kecuali pemerintah menjaga efisiensi dan penyaluran tepat sasaran.
“Tekanan harga minyak di atas level seratus dolar per barel secara langsung membayangi kemampuan anggaran negara, sehingga pengendalian subsidi dan keseimbangan fiskal menjadi faktor penentu stabilitas pasar saat ini,” tambahnya.
Sentimen negatif bertambah seiring isu konsultasi MSCI yang membuka kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Evaluasi dijadwalkan tuntas Juni 2027; ketidakpastian ini dikhawatirkan memicu pelarian modal asing dan memperbesar volatilitas nilai tukar.
“Isu reklasifikasi oleh MSCI jelas meningkatkan volatilitas rupiah, sehingga akselerasi reformasi, keterbukaan informasi, dan penegakan hukum di pasar modal harus konsisten dijalankan guna memulihkan minat investor asing,” tegas Ibrahim.
Bank Indonesia juga menghadapi dilema kebijakan: menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi, namun mempertahankan suku bunga dapat memperbesar tekanan pada kurs. Komunikasi yang transparan dan konsistensi bauran kebijakan menjadi kunci keseimbangan tersebut.
Ke depan, rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan rentang penutupan Rp18.180 hingga Rp18.230 per dolar AS pada perdagangan berikutnya, serta rentang mingguan Rp17.900–Rp18.250 per dolar AS. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Tagor
Editor : Alan






