Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Geopolitik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Jumat, 15 Mei 2026 - 12:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pada Jumat (15/5/2026), nilai tukar rupiah terus tertekan dan sempat menembus angka psikologis 17.600 per satu dolar AS. Foto: Ist.

Pada Jumat (15/5/2026), nilai tukar rupiah terus tertekan dan sempat menembus angka psikologis 17.600 per satu dolar AS. Foto: Ist.

Jakarta-Mediadelegasi: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan berat dan terus bergerak ke zona merah pada perdagangan pagi ini, Jumat (15/5/2026). Mata uang nasional tercatat menyentuh angka psikologis yang cukup mengkhawatirkan, yakni di level Rp17.600 per satu dolar AS, bahkan sempat menembus angka Rp17.612 berdasarkan data yang tercatat di Google Finance sebelum sedikit terkoreksi ke kisaran Rp17.579.

Pelemahan ini menjadi perhatian pelaku pasar dan pengamat ekonomi, mengingat tren penurunan nilai rupiah terlihat terus berlanjut dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan pasar berjangka atau Non-Deliverable Forward (NDF) Kamis (14/5) kemarin, rupiah sebenarnya sempat bergerak sedikit lebih baik di kisaran Rp17.517, namun hari ini kembali tertekan tajam hingga menembus angka Rp17.550 dan terus meluncur lebih dalam.

Salah satu penyebab utama yang disorot oleh para analis adalah ketegangan geopolitik global yang kian memanas, khususnya di kawasan Timur Tengah. Konflik yang semakin tajam antara Amerika Serikat dan Iran dinilai berdampak besar terhadap stabilitas ekonomi dunia dan langsung memengaruhi arah pergerakan mata uang utama dunia, termasuk dolar AS dan rupiah.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS menjadi alasan mendasar mengapa rupiah semakin tertekan. Menurutnya, penguatan dolar ini sudah terlihat sejak perdagangan hari sebelumnya, tepat saat sesi pasar Amerika mulai beroperasi, dan tren itu berlanjut hingga hari ini.

BACA JUGA:  BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi, Beberapa Wilayah di Indonesia Berpotensi Terdampak

“Rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dolar Amerika pada perdagangan hari ini, bahkan kemarin pun juga pada memasuki pasar Amerika, indeks dolar terus mengalami penguatan,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya yang diterima awak media.

Ia menekankan bahwa titik kritis yang menjadi kekhawatiran utama pasar internasional saat ini adalah kondisi di Selat Hormuz. Jalur perdagangan laut strategis ini disebut sebagai faktor penentu yang sangat besar karena menjadi jalur lalu lintas bagi sebagian besar pasokan energi dunia.

“Harus diingat bahwa permasalahan gejolak geopolitik di Timur Tengah ini masih terus dijadikan momok, terutama adalah di Selat Hormuz. Kita tahu saat ini sekitar 20 persen transportasi minyak dunia terhenti total akibat ketegangan di sana,” jelas Ibrahim lebih lanjut.

Akibat gangguan arus logistik dan risiko terputusnya pasokan tersebut, harga minyak dunia terpaksa terus naik dan mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga komoditas energi ini kemudian berimbas langsung pada apresiasi nilai tukar dolar AS, karena minyak dunia diperdagangkan menggunakan mata uang Amerika Serikat.

BACA JUGA:  Pasar Global Terguncang: Harga Minyak Dunia Meroket Akibat Blokade Selat Hormuz

Kondisi ini secara otomatis memberikan tekanan berat bagi mata uang negara berkembang seperti Indonesia. Semakin kuat dolar dan mahalnya harga energi global, semakin besar pula beban yang harus ditanggung rupiah dalam mempertahankan nilainya di pasar valuta asing.

Sementara itu, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, juga memiliki pandangan senada terkait proyeksi pergerakan rupiah ke depan. Ia menilai bahwa pasca libur panjang akhir pekan, rupiah kemungkinan besar masih akan bergerak dalam fase konsolidasi namun dengan kecenderungan yang melemah atau berarah bearish.

Menurut Sutopo, tekanan eksternal masih sangat dominan dan sulit dihindari. Selain faktor konflik, kekhawatiran terhadap inflasi global dan transisi kebijakan moneter di Amerika Serikat, terutama terkait perubahan pimpinan di Federal Reserve, membuat pasar berasumsi suku bunga akan tetap tinggi atau bahkan diperketat lagi.

“Risiko pengujian kembali ke level psikologis Rp17.550 bahkan berpotensi menembus lebih dalam masih sangat terbuka lebar sepanjang sentimen negatif dari luar negeri belum mereda,” ujar Sutopo. Hingga berita ini disusun, pasar masih memantau perkembangan situasi di Timur Tengah sebagai indikator utama arah gerak rupiah dalam beberapa hari ke depan. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KPK Bantah Video Jemput Paksa Nusron Wahid: Penyidik Siapkan Panggilan Ulang
Dirjen Imigrasi Pastikan Menteri ATR Nusron Wahid Sudah Kembali ke Indonesia Usai dari Singapura
KPK Surati Panglima TNI Soal Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB yang Libatkan Oknum Prajurit
Tim Advokasi Hadiri Gelar Perkara Bareskrim Polri Terkait Suket Penyetaraan Ijazah Gibran
PDIP Bantah Operasi Politik Ijazah Jokowi: Pembuktian Cukup Tunjukkan Dokumen Asli
KMP Batu Mandi Terbakar di Merak: ASDP Ungkap Kronologi dan Sampaikan Permohonan Maaf
Tersangka Blackout Batam-Bintan Ditangkap: 4 Petugas PLN dan 1 Kontraktor Jadi Tersangka
Demo di Tugu Tani: Aliansi Mahasiswa Bawa 5 Tuntutan, dari Karhutla hingga Biaya Pendidikan
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:34 WIB

KPK Bantah Video Jemput Paksa Nusron Wahid: Penyidik Siapkan Panggilan Ulang

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:06 WIB

Dirjen Imigrasi Pastikan Menteri ATR Nusron Wahid Sudah Kembali ke Indonesia Usai dari Singapura

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:10 WIB

KPK Surati Panglima TNI Soal Dugaan Korupsi Dana Bencana BNPB yang Libatkan Oknum Prajurit

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:41 WIB

Tim Advokasi Hadiri Gelar Perkara Bareskrim Polri Terkait Suket Penyetaraan Ijazah Gibran

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:03 WIB

KMP Batu Mandi Terbakar di Merak: ASDP Ungkap Kronologi dan Sampaikan Permohonan Maaf

Berita Terbaru