Tragedi di Lebak Bulus,Remaja 14 Tahun Bunuh Ayah dan Nenek, Psikolog Ungkap Akar Masalah Generasi Z

Senin, 2 Desember 2024 - 15:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 Jakarta, Media Delegasi – Polisi menetapkan remaja berinisial MAS (14) tahun sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan terhadap ayah dan neneknya di Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan.

Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Nurma Dewi menyebut penetapan tersangka berdasarkan alat bukti yang cukup. 

Menurut penjelasannya, MAS juga telah mengakui perbuatannya kepada pihak kepolisian.

“Iya dia mengakui, tapi untuk sementara ini tetap kita dalami,” ujarn Nurma.

Kasus-kasus pembunuhan yang dilakukan remaja generasi Z seperti yang terjadi di Lebak Bulus membuat masyarakat berpikir bagaimana orangtua memberi edukasi di mana setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.

Psikolog forensik Kassandra Putranto menjelaskan ada 4 faktor yang dapat menyebabkan seseorang, terutama remaja, melakukan tindakan ekstrem seperti kasus pembunuhan anak bunuh ayah dan nenek di Lebak Bulus.

BACA JUGA:  Kejagung Sanggah Klaim Kuasa Hukum Nadiem Soal Najelaa Shihab di Grup WhatsApp

“Pertama ada berbagai masalah gangguan mental emosional, gangguan kepribadian dan gangguan jiwa berpotensi dapat memicu perilaku agresif dan kekerasan. Perilaku agresif ini juga bisa disebabkan oleh gangguan impulsif (impulse control disorders), yang menyebabkan individu sulit mengendalikan dorongan untuk melakukan tindakan ekstrem dalam situasi tertentu, misalnya kemarahan atau frustrasi yang tidak bisa diatasi dengan cara yang lebih sehat,” ujar Kassandra seperti dihubungi. Senin (2/12/2024).

“Kedua, anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang penuh kekerasan atau kecemasan seringkali mengalami kesulitan dalam mengelola emosi dan berisiko untuk menunjukkan perilaku agresif, termasuk terhadap orang yang dekat dengan mereka seperti orangtua atau saudara.”

“Ketiga, remaja seringkali terjebak dalam konflik internal yang sangat besar, seperti pencarian identitas, tekanan teman sebaya, atau masalah akademis. Stres yang tidak terkelola dengan baik, disertai dengan kurangnya keterampilan koping (coping skills), bisa mendorong remaja untuk melepaskan emosi mereka dengan cara yang destruktif, termasuk kekerasan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Pemerintah Dorong Renovasi Rumah Tak Layak Huni dengan Bantuan Rp21,8 Juta per Unit

Kassandra nenyebut anak-anak yang mengalami kekerasan atau trauma di masa kecil lebih cenderung mengembangkan gangguan perilaku, depresi, atau bahkan gangguan kepribadian.

“Nah yang keempat adalah soal anak yang alami kekerasan di masa kecil, ini bisa berujung pada tindakan kekerasan di kemudian hari saat dewasa,” ujarnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Beri Izin Ruang Udara, Malaysia Tawarkan Bantuan Pemadaman Karhutla
Alasan Menhut Tak Ikut Kunjungan Prabowo ke Kalimantan-Sumatera
Prabowo menghadiri akad nikah Sekretaris Pribadinya
Aksi Lepas Logo Bank Mandiri Jelang Demo Jadi Sorotan Netizen
Prabowo Subianto bertolak ke Kalimantan
Terbitkan SEMA 4/2026, MA Tutup Celah Upaya Hukum untuk Putusan Bebas
KPK Klarifikasi Kegiatan OTT di Bogor
Kementerian PKP-BGN Siapkan Rumah Bagi Keluarga Penerima MBG
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 20:37 WIB

Indonesia Beri Izin Ruang Udara, Malaysia Tawarkan Bantuan Pemadaman Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 - 20:06 WIB

Alasan Menhut Tak Ikut Kunjungan Prabowo ke Kalimantan-Sumatera

Selasa, 25 Agustus 2026 - 11:47 WIB

Prabowo menghadiri akad nikah Sekretaris Pribadinya

Senin, 24 Agustus 2026 - 21:33 WIB

Aksi Lepas Logo Bank Mandiri Jelang Demo Jadi Sorotan Netizen

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:13 WIB

Prabowo Subianto bertolak ke Kalimantan

Berita Terbaru