25 Tahun Reformasi, PENA 98 Sumut Gelar Diskusi Interaktif

- Penulis

Selasa, 9 Mei 2023 - 22:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Mantan aktivis gerakan mahasiswa Sumatera Utara (Sumut) tahun 1998 masing-masing Dadang Darmawan (kedua kanan), J. Anto (kedua kiri) dan Nicodemus Sitanggang (kiri) menjadi pembicara dalam acara diskusi interaktif yang digelar Persatuan Nasional Aktifis 98 (PENA 98) dalam rangka peringatan 25 Tahun Reformasi, di aula kampus Unika Santo Thomas Medan, Selasa (9/5).  Foto: Dngt

Mantan aktivis gerakan mahasiswa Sumatera Utara (Sumut) tahun 1998 masing-masing Dadang Darmawan (kedua kanan), J. Anto (kedua kiri) dan Nicodemus Sitanggang (kiri) menjadi pembicara dalam acara diskusi interaktif yang digelar Persatuan Nasional Aktifis 98 (PENA 98) dalam rangka peringatan 25 Tahun Reformasi, di aula kampus Unika Santo Thomas Medan, Selasa (9/5). Foto: Dngt

Medan-Mediadelegasi: Persatuan Nasional Aktifis 98 (PENA 98) Sumatera Utara (Sumut) memperingati 25 Tahun Gerakan Reformasi dan menggelar diskusi interaktif bertema ‘Kami Menolak Lupa’ di aula kampus Universitas Katolik (Unika) Santo Thomas Medan, Selasa (9/5).

Acara memperingati 25 tahun reformasi tersebut turut dihadiri sejumlah mantan aktivis mahasiswa di Sumut pada masa Reformasi Tahun 1998, antara lain Nicodemus Sitanggang, Patricius Rajagukguk, Andi Siahaan, Jansen Sihombing, dan Liston Hutajulu yang juga sebagai Ketua Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) Sumut.

Sedangkan peserta diskusi berasal dari kalangan mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Medan, antara lain Unika Santo Thomas Medan, USU, Unimed, Universitas Darma Agung, UISU, Unpab, Universitas HKBP Nommensen, Unpri, Amik Medicom, Politektik MBP, Universitas MBP, Universitas HKBP Nomensen Siantar, dan Universitas Simalungun Indonesia (USI).

Sebelum acara diskusi dimulai, Rektor Unika Santo Thomas Prof. Dr. Maidin Gultom, SH, M.Hum dalam kata sambutannya mengapresiasi penyelenggaran peringatan 25 tahun Reformasi yang diisi dengan diskusi publik.

Pada kesempatan itu, Maidin Gultom memberikan cinderamata berupa ulos dan souvenir kepada pembicara yang juga para mantan aktivis mahasiswa saat reformasi 1998, masing-masing Dadang Darmawan Pasaribu (dosen Universitas Medan Area), J Anto (peneliti dan jurnalis) serta Nicodemus Sitanggang yang dikenal sebagai salah satu Presidium Nasional PENA 98.

Dalam acara diskusi tersebut, Dadang Darmawan mengungkapkan bahwa pasca runtuhnya pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 silam masih menyisakan pekerjaan rumah yang penting untuk diselesaikan, terutama soal kesejahteraan rakyat.

BACA JUGA:  ITB dan Schneider Electric Gelar "Workshop Automate Smarter"

Dadang menegaskan bahwa Gerakan Mahasiswa 98 memiliki kesadaran, keberanian dan pengorbanan menghadapi rezim represif dan otoriter Orde Baru.

“Gerakan 98 diawali dengan kejatuhan ekonomi global yang diawali oleh Argentina pada tahun 1996, kemudian merembet ke Amerika dan juga Indonesia. Mahasiswa saat itu dipertemukan olehinformasi yang ada di media. Lalu dengan kesadaran, keberanian dan pengorbanan, seluruh mahasiswa menyatukan tekad dan perjuangan yaitu Indonesia tanpa Soeharto,” paparnya.

Gerakan reformasi, lanjutnya, kemudian melahirkan perubahan sistem yang sebagian besar sudah terwujud dan hasilnya telah dnikmati hingga kini, di antaranya penghapusan dwi fungsi ABRI, perubahan sistem pemilu dan kepartaian serta perlindungan HAM.

Lebih lanjut Dadang mengatakan bahwa kalangan generasi muda di era sekarang ini penting untuk mengingat sejarah dan memutus mata rantai kekuasaan Orde Baru dengan tidak membiarkan kekuatan Orde Baru kembali mengkonsolidasikan diri.

Pembicara lainnya J. Anto mengungkapkan bahwa pada masa pemerintahan Soeharto banyak terjadi pelanggaran hak asasi manusia (HAM), termasuk kekerasan rasial yang dirasakan oleh sejumlah etnis Tionghoa di Indonesia.

“Serangan rasialisme yang paling tragis itu adalah pada peristiwa tragedi Mei 1998 danyang menjadi sasaran itu adalah etnis Tionghoa. Kekerasan fisik, seksual, pemerkosaan dialami warga Tionghoa, termasuk di Sumatera Utara. Jangan sampai kita mengulangi lagi sejarah kelam politisasi identitas yang mungkin berpotensi muncul menjelang pemilu 2024,” ujar J Anto.

BACA JUGA:  Bobby Nasution Apresiasi Peran Petani Hutan dalam Melestarikan Kawasan Hutan dan Perekonomian Sumut

Sementara Nicodemus Sitanggang mengatakan mahasiswa pada 1998 melakukan demonstrasi besar-besaran karena berawal dari rasa kekecewaan terhadap jalannya pemerintahan Soeharto

Disebutkannya, gerakan reformasi tahun 1998 yang melibatkan sejumlah elemen mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia telah banyak membawa perubahan, meski masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang belum selesai.

“Karena itu, generasi muda harus mampu melihat masa depan yang lebih baik, termasuk dengan memilih pemimpin yang tepat untuk kemajuan bangsa,” ucap Nicodemus.

Ia memaparkan, ada delapan kriteria pemimpin versi PENA 98 yang perlu dipertimbangkan demi kesinambungan reformasi.

Delapan kriteria pemimpin Indonesia versi PENA 98 tersebut, yaitu, pertama, menjaga Pancasila, UUD 1945, NKRI, menghormati keberagaman, dan merawat kebhinekaan.

Kedua, bukan bagian dari rezim Orde Baru, ketiga, tidak punya rekam jejak terlibat dalam penggunaan politik identitas, keempat, tidak pernah terlibat dalam pelanggaran HAM, kelima, tidak pernah terlibat kasus korupsi.

Keenam, melanjutkan program kerja Presiden Joko Widodo, berkomitmen memperjuangkan agenda reformasi, menyelesaikan pelanggaran HAM berat masa lalu, menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan mewujudkan reforma agraria.

Sedangkan kriteria kedelapan, yakni berkomitmen melakukan upaya-upaya memperkuat ekonomi kerakyatan yang berkeadilan serta berpihak kepada rakyat. D|rel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Berhasil Diburu Sejak Sebulan Lebih, Begal yang Masuk DPO Akhirnya Ditangkap di Minimarket
Usai Penjelasan Pemko, Anggaran Air Mineral Rp1,1 Miliar Masih Diperdebatkan
Program Revitalisasi Sekolah di Medan Disorot, LP3 Siap Laporkan ke Kejati Sumut
Belum Reda Kasus Dishub, Rico Waas Kena Sorotan Air Mineral Rp1 Miliar
Srikandi FAST UNPRI Tembus Jurnal Scopus Q2: Bukti Nyata Kebijakan Kelulusan Berbasis Publikasi Ilmiah
Air Mineral Rp1 Miliar Setahun di Pemko Medan Disorot, Gen Z Sumut : “Mungkin Makhluk Halus Ikut Minum”
Zakiyuddin: Soal Sekda Tak Perlu Dibicarakan, Mekanismenya Sudah Diatur
Kritik Kebijakan Pemerintah, Ratusan Mahasiswa Kepung Gedung DPRD Sumut
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 14:08 WIB

Berhasil Diburu Sejak Sebulan Lebih, Begal yang Masuk DPO Akhirnya Ditangkap di Minimarket

Selasa, 23 Juni 2026 - 14:43 WIB

Usai Penjelasan Pemko, Anggaran Air Mineral Rp1,1 Miliar Masih Diperdebatkan

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:02 WIB

Program Revitalisasi Sekolah di Medan Disorot, LP3 Siap Laporkan ke Kejati Sumut

Sabtu, 20 Juni 2026 - 14:32 WIB

Belum Reda Kasus Dishub, Rico Waas Kena Sorotan Air Mineral Rp1 Miliar

Jumat, 19 Juni 2026 - 19:49 WIB

Srikandi FAST UNPRI Tembus Jurnal Scopus Q2: Bukti Nyata Kebijakan Kelulusan Berbasis Publikasi Ilmiah

Berita Terbaru