Bank Indonesia Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan Menjadi 5,75 Persen, Jaga Stabilitas Rupiah dan Inflasi

Kamis, 18 Juni 2026 - 17:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. Foto: Ist.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. Foto: Ist.

Jakarta-Mediadelegasi: Bank Indonesia (BI) resmi memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung selama dua hari, yaitu pada 17 hingga 18 Juni 2026, sebagai langkah kebijakan untuk menjaga kestabilan perekonomian nasional.

Seiring dengan kenaikan suku bunga acuan, BI juga menyesuaikan dua suku bunga kebijakan lainnya. Suku bunga Deposit Facility naik sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen, sedangkan suku bunga Lending Facility juga mengalami kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 6,50 persen. Penyesuaian ini dilakukan secara serentak untuk menjaga keseimbangan mekanisme keuangan di pasar.

“Berdasarkan asesmen menyeluruh terhadap kondisi ekonomi dalam negeri dan perkembangan global, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 17 dan 18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen,” ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Menurut Perry, keputusan ini merupakan langkah lanjutan yang diambil untuk semakin memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar rupiah. Langkah ini dinilai sangat penting mengingat saat ini masih terdapat tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi dalam perekonomian dunia yang dapat memengaruhi kinerja mata uang dan perekonomian Indonesia.

BACA JUGA:  BI: Rupiah Melemah Terbatas 0,28%, Tetap Terkendali Meski Tekanan Global Berlanjut

Selain untuk menjaga nilai tukar, kenaikan suku bunga ini juga menjadi tindakan antisipatif atau preemptive. Tujuannya agar laju inflasi pada tahun 2026 dan 2027 dapat tetap terjaga dan bergerak sesuai target yang ditetapkan pemerintah, yaitu berada pada kisaran 2,5 persen ditambah atau dikurangi 1 persen.

Meskipun menaikkan suku bunga acuan, Perry menegaskan bahwa kebijakan di bidang makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini dirancang agar tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga stabilitas moneter yang telah ditetapkan.

“Kebijakan makroprudensial yang bersifat longgar terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Caranya dengan meningkatkan penyaluran kredit dan pembiayaan ke sektor riil, namun tetap dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan agar tidak terganggu,” jelasnya.

Langkah yang diambil kali ini bukanlah satu-satunya penyesuaian dalam waktu dekat. Sebelumnya, Bank Indonesia juga telah melakukan penyesuaian kebijakan serupa pada pertengahan bulan lalu.

Pada Rapat Dewan Gubernur yang diumumkan pada Selasa, 9 Juni 2026, BI juga telah menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin dari posisi sebelumnya menjadi 5,50 persen. Kenaikan kali ini menjadi lanjutan dari kebijakan tersebut untuk menjaga arah kebijakan moneter yang konsisten.

BACA JUGA:  Gunung Anak Krakatau Meletus Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 400 Meter, Warga Dilarang Mendekat Radius 3 Km

Dengan adanya penyesuaian bertahap ini, BI ingin memastikan bahwa tekanan dari luar negeri tidak membebani kondisi ekonomi dalam negeri. Pengendalian suku bunga menjadi instrumen utama agar daya beli masyarakat dan kestabilan harga barang kebutuhan pokok tetap terjaga.

Bank Indonesia menekankan bahwa setiap keputusan yang diambil selalu didasarkan pada pemantauan yang cermat terhadap berbagai indikator ekonomi. Hal ini dilakukan agar kebijakan yang diterapkan tepat sasaran, tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga tetap mendukung kelancaran roda perekonomian nasional.

Selanjutnya, BI akan terus memantau perkembangan kondisi ekonomi global dan domestik secara ketat. Jika diperlukan, penyesuaian kebijakan lanjutan dapat dilakukan guna memastikan perekonomian Indonesia tetap tumbuh berkelanjutan, sehat, dan stabil di tengah dinamika pasar keuangan dunia yang terus berubah. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Nusron Wahid Penuhi Panggilan KPK Terkait Kasus Korupsi Kementerian ATR BPN
Pengerahan Pasukan TNI Jumlah Besar ke Jakarta, Kapuspen: Tugas Negara dan Siaga Menjaga NKRI
Mutasi Polri November 2026: Kapolri Rotasi 264 Perwira Tinggi dan Menengah
Isu Penyadapan Istana dan Penangkapan Jenderal Polri: Mabes Polri Minta Publik Bersabar
Kabar Penangkapan Jenderal Polri, Kadiv Humas: Masih Dicek, Belum Diklarifikasi
Jimly Asshiddiqie: Pemakzulan Gibran Lewat DPR–MK–MPR, Mundur Sukarela Lebih Cepat
Ketua BEM Trisakti Zahra Nazira Suarakan Tiga Tuntutan, Pemerintah Diminta Jangan Abaikan Rakyat
KPK Tetapkan Dedi Congor Tersangka Baru Suap Bea Cukai, Kasus Cukai Djarum Disorot
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 11:51 WIB

Nusron Wahid Penuhi Panggilan KPK Terkait Kasus Korupsi Kementerian ATR BPN

Rabu, 4 November 2026 - 11:12 WIB

Pengerahan Pasukan TNI Jumlah Besar ke Jakarta, Kapuspen: Tugas Negara dan Siaga Menjaga NKRI

Selasa, 3 November 2026 - 17:12 WIB

Mutasi Polri November 2026: Kapolri Rotasi 264 Perwira Tinggi dan Menengah

Selasa, 3 November 2026 - 16:26 WIB

Isu Penyadapan Istana dan Penangkapan Jenderal Polri: Mabes Polri Minta Publik Bersabar

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:08 WIB

Jimly Asshiddiqie: Pemakzulan Gibran Lewat DPR–MK–MPR, Mundur Sukarela Lebih Cepat

Berita Terbaru