BMKG Peringatkan Ancaman Banjir Lahar Hujan dari Gunung Lewotobi Laki-Laki, Apa yang Harus Diwaspadai?

Selasa, 19 November 2024 - 16:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Media Delegasi  – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi banjir lahar hujan dari Gunung Lewotobi Laki-Laki di NTT, seiring telah tiba musim hujan dan cuaca ekstrem yang diakibatkan fenomena La Nina maupun dinamika atmosfer.
Maka dari itu pemerintah daerah dan masyarakat yang berada di sekitar lereng dan jalur aliran sungai diimbau meningkatkan kesiapsiagaan dengan cara menghindari bantaran sungai yang mengalir dari lereng gunung yang sedang ataupun telah erupsi.

“Belajar dari Gunung Marapi di Sumatra Barat, kami meminta seluruh pihak dan masyarakat untuk mewaspadai banjir lahar hujan yang bisa sewaktu-waktu terjadi karena sangat berbahaya,” imbau Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Jakarta pada Senin (18/11/2024), dikutip dari laman BMKG.

Apa Itu Banjir Lahar Hujan?
Dwikorita menerangkan banjir lahar hujan adalah banjir besar dan cepat yang terjadi saat air hujan bercampur dengan material vulkanik dari erupsi gunung berapi. Material vulkanik ini dapat berupa pasir, abu, dan bebatuan yang juga bercampur dengan kayu ataupun pohon.

Banjir lahar hujan dapat mengancam nyawa, menutup pemukiman, dan mengangkut batu-batu besar di sungai.

“Belajar dari Gunung Marapi di Sumatra Barat, kami meminta seluruh pihak dan masyarakat untuk mewaspadai banjir lahar hujan yang bisa sewaktu-waktu terjadi karena sangat berbahaya,” tegasnya.

BACA JUGA:  Ramalan Zodiak Besok Minggu 27 April 2025: Taurus, Gemini, Cancer, Leo

Kepala BMKG menekankan ancaman banjir lahar hujan kian meningkat lantaran pada musim hujan saat ini, Indonesia juga tengah dilanda La Nina.

Cuaca NTT
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menyampaikan berdasarkan pantauan BMKG, selama sepekan terakhir cuaca di NTT cukup bervariasi. Wilayah NTT terpantau cerah berawan hingga hujan ringan, dengan hujan disertai petir di sebagian wilayah seperti Pulau Timor, Manggarai, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, serta Flores Timur.

Sementara, berdasarkan pengamatan pada 16 November 2024, curah hujan tercatat sebesar 45,2 mm/hari di Stasiun Meteorologi Eltari Kupang, 31,4 mm/hari di Stasiun Meteorologi Gewayantana Flores Timur, dan 2,6 mm/hari di Stasiun Meteorologi Frans Seda Maumere.

“Hingga awal November 2024, sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mulai memasuki awal musim hujan. Namun, wilayah di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki diprediksi baru akan memasuki musim hujan pada awal Desember. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko banjir lahar hujan di sekitar lereng gunung tersebut,” jelas Guswanto.

Selama sepuluh hari ke depan, cuaca di NTT secara umum diprediksi cerah berawan hingga hujan ringan. Kendati demikian, ada potensi hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah seperti Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Ende, sebagian Alor, sebagian Sikka, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur.

BACA JUGA:  "Pendaftaran Bintara TNI AD 2024 Gelombang 2 Resmi Dibuka untuk Lulusan SMA/SMK: Cek Jadwal & Syarat Lengkapnya!"

Guswanto mengingatkan bahwa potensi hujan yang masih tinggi di NTT berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi basah, termasuk banjir lahar hujan di sekitar wilayah yang terdampak bencana, khususnya di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki.

“BMKG mengimbau masyarakat di kawasan tersebut untuk tetap tenang, tetapi terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” lanjut Guswanto.

Direktur Meteorologi Publik, Andri Ramdhani ikut menambahkan, berdasarkan pantauan dinamika atmosfer terkini tampak potensi peningkatan intensitas cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia.

Suhu muka laut yang hangat di perairan sekitar Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara memberikan suplai kelembapan cukup tinggi ke atmosfer, sehingga mendukung pembentukan awan hujan yang lebih intens.

Kemudian, faktor labilitas atmosfer lokal meningkatkan peluang hujan lebat, petir, dan angin kencang dalam beberapa hari ke depan.

Potensi pertumbuhan awan hujan kategori tinggi, yakni lebih dari 70 persen, juga terdeteksi di sebagian besar Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Dengan kondisi ini, maka intensitas hujan diperkirakan lebih dominan di wilayah-wilayah yang sudah masuk musim hujan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jampidsus Febrie Adriansyah Dikabarkan Mundur
Surat Rahasia Kejagung Bocor: Soroti Kasus Pejabat, Pegawai Kejaksaan Dilarang Komentar Soal Perkara
Bupati Langkat Syah Afandin Di OTT KPK
Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax
Nama Raffi Ahmad Terseret Dalam Kasus Dugaan Suap Importasi Barang di Bea Cukai
​Kurs Rupiah Terpuruk di Angka Rp18.000, Hasto Kristiyanto Kritik Keras Manajemen Pemerintahan
Tuntut Kepastian Operasional, Investor Dapur SPPG di Wilayah 3T Geruduk Kantor BGN
Rupiah Hancur! Tembus Rp18.175 per Dolar AS
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 00:15 WIB

Jampidsus Febrie Adriansyah Dikabarkan Mundur

Kamis, 9 Juli 2026 - 23:19 WIB

Surat Rahasia Kejagung Bocor: Soroti Kasus Pejabat, Pegawai Kejaksaan Dilarang Komentar Soal Perkara

Jumat, 3 Juli 2026 - 09:17 WIB

Bupati Langkat Syah Afandin Di OTT KPK

Rabu, 10 Juni 2026 - 07:47 WIB

Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:03 WIB

Nama Raffi Ahmad Terseret Dalam Kasus Dugaan Suap Importasi Barang di Bea Cukai

Berita Terbaru