Kejagung Hormati Gugatan UU Kejaksaan ke MK, Pertanyakan Kewenangan Berlebih Jaksa

Jumat, 6 Juni 2025 - 10:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Ist

Foto: Ist

Jakarta-Mediadelegasi: Undang-Undang (UU) Kejaksaan Republik Indonesia digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) oleh dua advokat, Harmoko dan Juanda. Gugatan tersebut menyasar Pasal 8 ayat (5) UU Kejaksaan yang mengatur tentang izin Jaksa Agung untuk pemanggilan, pemeriksaan, penggeledahan, penangkapan, dan penahanan terhadap Jaksa. Kejaksaan Agung (Kejagung) menyatakan menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Harli Siregar, menegaskan bahwa Kejagung menghormati berbagai pandangan dan upaya hukum dari masyarakat. Namun, Harli mempertanyakan poin krusial dalam gugatan tersebut: kewenangan Jaksa mana yang dianggap berlebihan. Ia menekankan bahwa kewenangan Kejaksaan Agung dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat dan bertujuan untuk melindungi kepentingan masyarakat.

Pemohon berargumen bahwa Pasal 8 ayat (5) UU Kejaksaan memberikan hak imunitas yang berlebihan kepada Jaksa, berbeda dengan penegak hukum lain seperti hakim, polisi, dan advokat. Mereka menilai pasal tersebut bertentangan dengan prinsip equality before the law yang tercantum dalam UUD 1945. Pemohon juga menitikberatkan pada ketidakadaan pengecualian kualifikasi dan jenis tindak pidana yang dilakukan Jaksa.

BACA JUGA:  Polisi Tangkap 23 Tersangka Kasus Judi Online, Libatkan 10 Pegawai Kementerian Komdigi

Sebagai perbandingan, pemohon mencontohkan UU Advokat yang mengatur hak imunitas, namun tetap memungkinkan pemeriksaan dan penahanan advokat jika terbukti melanggar hukum dan tidak bertindak berdasarkan itikad baik. Oleh karena itu, pemohon memohon kepada MK untuk menyatakan Pasal 8 ayat (5) UU Kejaksaan bertentangan dengan UUD 1945.

Sidang pendahuluan perkara ini telah digelar pada 16 Mei 2025. Kejagung menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada hakim konstitusi. Harli Siregar meminta masyarakat dan media untuk bersikap kritis terhadap argumen yang diajukan dalam gugatan tersebut, khususnya terkait kewenangan Jaksa yang dianggap berlebihan.

Pemohon mengajukan dua alternatif perubahan pada Pasal 8 ayat (5) UU Kejaksaan. Pertama, meminta agar izin penyelidikan dan penahanan Jaksa hanya dapat dilakukan atas izin Presiden, kecuali dalam kondisi tertentu seperti tertangkap tangan atau kasus kejahatan berat. Kedua, pemohon mengusulkan agar persetujuan tertulis dari Presiden diberikan paling lambat 30 hari setelah permohonan diajukan, dan apabila tidak diberikan, proses penyidikan dapat dilanjutkan.D|Red

BACA JUGA:  KMDT dan PPRSI Siap Bersinergi Majukan Danau Toba

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Beri Izin Ruang Udara, Malaysia Tawarkan Bantuan Pemadaman Karhutla
Alasan Menhut Tak Ikut Kunjungan Prabowo ke Kalimantan-Sumatera
Prabowo menghadiri akad nikah Sekretaris Pribadinya
Aksi Lepas Logo Bank Mandiri Jelang Demo Jadi Sorotan Netizen
Prabowo Subianto bertolak ke Kalimantan
Terbitkan SEMA 4/2026, MA Tutup Celah Upaya Hukum untuk Putusan Bebas
KPK Klarifikasi Kegiatan OTT di Bogor
Kementerian PKP-BGN Siapkan Rumah Bagi Keluarga Penerima MBG
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 20:37 WIB

Indonesia Beri Izin Ruang Udara, Malaysia Tawarkan Bantuan Pemadaman Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 - 20:06 WIB

Alasan Menhut Tak Ikut Kunjungan Prabowo ke Kalimantan-Sumatera

Selasa, 25 Agustus 2026 - 11:47 WIB

Prabowo menghadiri akad nikah Sekretaris Pribadinya

Senin, 24 Agustus 2026 - 21:33 WIB

Aksi Lepas Logo Bank Mandiri Jelang Demo Jadi Sorotan Netizen

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:13 WIB

Prabowo Subianto bertolak ke Kalimantan

Berita Terbaru

Destanul Aulia, Pemerhati Pendidikan Tinggi. Foto: Ist.

Pendidikan

Kuliah Gratis di PTN, Bagaimana Nasib Kesempatan Kuliah di PTS?

Senin, 28 Sep 2026 - 10:34 WIB