Ketika “Engkau” Membentuk “Kita”: Au Do Ho, Ho Do Au: Etika Kita

Kamis, 21 Mei 2026 - 13:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., Dipl.Plan., M.Si

Foto: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., Dipl.Plan., M.Si

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., Dipl.Plan., M.Si

Medan-Mediadelegasi: DALAM kehidupan modern, relasi antarmanusia semakin mudah direduksi menjadi urusan fungsi, kepentingan, dan pertukaran. Orang lain hadir sejauh ia berguna, atau sejauh ia mengancam. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan klasik tentang dasar hidup bersama kembali menjadi relevan: apakah manusia pada dasarnya hidup dari ketakutan, dari kewajiban moral, atau dari perjumpaan?

Thomas Hobbes memberi jawaban yang tegas. Ia melihat manusia dalam kondisi dasarnya sebagai makhluk yang rentan jatuh dalam konflik. Dalam keadaan tanpa tatanan yang kuat, relasi manusia cenderung berubah menjadi “perang semua melawan semua”. Karena itu, menurut Hobbes, kehidupan bersama hanya mungkin jika ada kekuasaan yang mampu menahan ketakutan kolektif dan mengubahnya menjadi keteraturan. Relasi sosial, dengan demikian, pada dasarnya adalah strategi bertahan hidup.

Immanuel Kant menggeser dasar tersebut. Bagi Kant, manusia tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai alat untuk tujuan lain. Ia harus selalu dihormati sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Etika tidak lagi berdiri di atas rasa takut, melainkan pada kewajiban rasional untuk mengakui martabat manusia. Namun, masih tersisa satu pertanyaan yang lebih sulit: bagaimana prinsip itu sungguh menjadi pengalaman hidup, bukan sekadar rumusan moral?

Martin Buber menjawabnya dengan menggeser perhatian dari prinsip ke relasi. Ia membedakan dua cara manusia berelasi: “aku–itu” dan “aku–engkau”. Dalam relasi “aku–itu”, orang lain direduksi menjadi objek, fungsi, atau ancaman. Dalam relasi “aku–engkau”, orang lain hadir sebagai pribadi yang utuh dan tak tergantikan. Etika, dalam pengertian ini, bukan pertama-tama aturan, tetapi cara hadir.

Jika Hobbes menekankan kontrol terhadap ketakutan, dan Kant menegaskan penghormatan terhadap martabat, maka Buber menunjukkan bahwa keduanya hanya menjadi hidup ketika manusia sungguh mampu berjumpa.

Ketiga pemikiran ini dapat dibaca sebagai tiga lapisan etika modern: Hobbes mengingatkan realitas konflik, Kant menegaskan prinsip martabat, dan Buber menghidupkan dimensi perjumpaan yang konkret.

BACA JUGA:  Gubernur Bobby Nasution Lantik 177 Pejabat Administrator dan Pengawas Pemprov Sumut

Dalam kehidupan sehari-hari, pertanyaannya menjadi sangat sederhana sekaligus menentukan: apakah kita melihat orang lain sebagai ancaman, sebagai kewajiban moral, atau sebagai kehadiran yang tak tergantikan? Namun, ada pengalaman manusia yang sering melampaui ketiganya: pengalaman ketika seseorang menyadari bahwa ia tidak berjalan sendirian. Bahwa dalam keterbatasan dan kerapuhannya, ia tetap disertai. Pengalaman ini tidak hanya menenangkan secara psikologis, tetapi mengubah cara manusia memandang dunia.

Ketika pengalaman “disertai” itu hadir, yang lain tidak lagi pertama-tama tampil sebagai ancaman (Hobbes), atau sekadar objek kewajiban moral (Kant), melainkan sebagai sesama yang juga berada dalam perjalanan yang rapuh. Dengan demikian, relasi manusia bergerak dari ketakutan, menuju kewajiban, dan akhirnya menuju perjumpaan.

Ungkapan puitis “Saya adalah Kamu, Kamu adalah Saya — Au Do Ho, Ho Do Au” dapat dibaca dalam horizon ini. Ia tidak menunjuk pada peleburan identitas, melainkan pada kesadaran bahwa diri manusia selalu terbentuk dalam relasi. Tidak ada “aku” yang sepenuhnya otonom tanpa “engkau” yang menyertainya dalam berbagai bentuk kehidupan. “Kita” dengan demikian bukan semata produk kontrak sosial seperti dalam Hobbes, bukan hanya penerapan kewajiban moral seperti dalam Kant, dan bukan pula sekadar intensitas perjumpaan seperti dalam Buber. “Kita” lahir dari pertemuan ketiganya dalam satu kenyataan dasar: manusia itu rapuh, bermartabat, dan selalu berada dalam relasi.

Dalam masyarakat yang mudah terfragmentasi, ketiganya tetap relevan sekaligus saling melengkapi. Hobbes mengingatkan pentingnya stabilitas, Kant menjaga martabat manusia agar tidak direduksi, dan Buber menjaga agar relasi tidak kehilangan kedalaman kemanusiaannya. Namun yang menentukan bukan hanya keberadaan ketiga gagasan itu, melainkan apakah cara kita memandang sesama sungguh dibentuk olehnya: bukan sekadar sebagai ancaman yang harus dikendalikan, bukan sekadar kewajiban yang harus dipenuhi, tetapi sebagai “engkau” yang hadir dan tidak tergantikan.

BACA JUGA:  Pasukan 08 Sumut Bukan Sekadar Ormas, Tapi Garda Depan Keamanan yang Siap 'Pasang Badan' untuk Masyarakat

Di titik itu, etika tidak lagi hanya menjadi sistem, melainkan cara hidup. Dari cara hidup itulah “aku” dan “kamu” tidak lagi berdiri berhadapan, melainkan dipulihkan dalam ruang yang sama: ruang di mana manusia sungguh menjadi manusia bersama yang lain.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya hidup dari kemampuan mengatur diri, melainkan dari kesediaan untuk dituntun dan disertai dalam seluruh perjalanan hidupnya. Ada saat ketika manusia berjalan melewati lembah ketidakpastian, kehilangan, persaingan, dan keterasingan, namun tetap menemukan keberanian untuk melanjutkan langkah karena ia percaya bahwa hidup ini tidak dibiarkan kosong dari penyertaan.

Dari pengalaman itulah lahir kerendahan hati untuk memandang sesama bukan sebagai lawan, melainkan sebagai sesama peziarah kehidupan. Yang kuat belajar menjaga, yang lemah tidak ditinggalkan, dan setiap orang menemukan tempatnya dalam persekutuan (parsadaan) yang saling menopang. Kehadiran menjadi lebih penting daripada dominasi; kesetiaan lebih bermakna daripada sekadar keberhasilan.

Barangkali di situlah inti terdalam dari “Au Do Ho, Ho Do Au.” Bahwa manusia hanya sungguh menjadi dirinya ketika ia hidup dalam pengakuan akan kehadiran yang menuntun, memelihara, dan memulihkan. Dari sana lahir keberanian untuk berkata kepada sesama: engkau bukan orang asing bagiku.

Dan ketika kesadaran itu hidup, “kita” tidak lagi sekadar istilah sosial, melainkan rumah bersama tempat manusia saling mengenal, saling menjaga, dan saling menguatkan di tengah perjalanan hidup yang panjang. Saya adalah Kamu, Kamu adalah Saya. Au Do Ho, Ho Do Au. Dan dalam perjumpaan itu, “kita” menjadi mungkin. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hari Perhubungan Nasional 2026, Wagub Sumut Tekankan Transportasi Terintegrasi
Wagub Surya: Aset Sumut Harus Clear and Clean Jadi Mesin Penggerak PAD dan Ekonomi Daerah
Wagub Surya Saksikan SKB RBI: Perlindungan Perempuan dan Anak Wajib Masuk Program Kerja 2027
Jalan Longsor Pamah Semelir Langkat Diperbaiki Oktober 2026, Gubernur Bobby Pastikan Air Bersih Segera Mengalir
Wapres Gibran Jamin Seluruh Biaya Pengobatan Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo
Wapres Gibran Kunjungi Kabupaten Karo, Jenguk Korban Dugaan Keracunan MBG di Berastagi
BMKG: Hujan Lebat dan Angin Kencang Ancam Aceh dan Sumut 11–13 September 2026
Bobby Nasution Tekankan Eksekusi Cepat dan Tepat Sasaran Perubahan APBD Sumut 2026
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 17:24 WIB

Hari Perhubungan Nasional 2026, Wagub Sumut Tekankan Transportasi Terintegrasi

Rabu, 16 September 2026 - 10:49 WIB

Wagub Surya: Aset Sumut Harus Clear and Clean Jadi Mesin Penggerak PAD dan Ekonomi Daerah

Selasa, 15 September 2026 - 13:45 WIB

Wagub Surya Saksikan SKB RBI: Perlindungan Perempuan dan Anak Wajib Masuk Program Kerja 2027

Sabtu, 12 September 2026 - 13:08 WIB

Jalan Longsor Pamah Semelir Langkat Diperbaiki Oktober 2026, Gubernur Bobby Pastikan Air Bersih Segera Mengalir

Sabtu, 12 September 2026 - 11:25 WIB

Wapres Gibran Jamin Seluruh Biaya Pengobatan Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo

Berita Terbaru

Sidang kasus dugaan fitnah ijazah Jokowi dengan terdakwa Roy Suryo di PN Jakarta Timur, Kamis (17/9/2026). Foto: Ist.

Nasional

Roy Suryo Tolak RJ, Pilih Lawan Dakwaan Kasus Ijazah Jokowi

Kamis, 17 Sep 2026 - 16:42 WIB

Polisi menangkap oknum ustaz yang diduga mencabuli santriwati di Kabupaten Siak, Riau. Foto: Ist.

Nasional

Oknum Ustaz di Siak Ditangkap, 4 Santriwati Jadi Korban

Kamis, 17 Sep 2026 - 16:04 WIB

Sidang perdana kasus tudingan ijazah palsu Jokowi dengan terdakwa Roy Suryo di PN Jakarta Timur, Kamis (17/9/2026). Foto: Ist.

Nasional

Roy Suryo Didakwa Serang Nama Baik Jokowi di Medsos

Kamis, 17 Sep 2026 - 14:44 WIB

Alustadz Rahmat Agus Darmawan Siregar (foto kiri) di hadapan jamaah tausiyah memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, di Dusun Sinarbulan, Labusel, Rabu (16/9). Foto: maruli

Kabupaten Labuhan Batu Selatan

Mengupas Rahasia Sepertiga Malam di Balik Kelahiran Rasulullah

Kamis, 17 Sep 2026 - 13:49 WIB