Jakarta-Mediadelegasi: Suasana hangat, penuh kerinduan, dan kental dengan nuansa nostalgia menyelimuti pertemuan bersejarah yang digelar di Sport Stube Resto, kawasan Pondok Indah Golf, Jakarta, pada Kamis sore, 28 Mei 2026. Mulai pukul 18.00 WIB, tempat tersebut menjadi saksi berkumpulnya para tokoh kunci yang memiliki andil besar dalam sejarah kelahiran dan pembangunan awal Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.
Pertemuan ini mempertemukan Ir. Sahat Maruli Sinaga, salah satu sosok penggagas utama terbentuknya Kabupaten Samosir. Ia hadir didampingi oleh tokoh bisnis ternama, Ir. Saibun Sinaga beserta keluarga. Turut hadir pula Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, M.Si, Penjabat Bupati Samosir yang pertama menjabat pada periode 2004–2005, didampingi oleh istri tercinta. Kehadiran mereka menjadi momen langka untuk melepas rindu sekaligus merajut kembali benang merah sejarah perjuangan daerah di kawasan Danau Toba tersebut.
Dalam suasana yang sangat akrab dan penuh kekeluargaan, diskusi berjalan mengalir mengingat kembali masa-masa berat namun penuh makna. Para tokoh ini saling bertukar cerita mengenai proses panjang pemekaran wilayah, perjuangan melengkapi kebutuhan administrasi pemerintahan, hingga berbagai tantangan besar yang dihadapi saat harus membangun daerah yang baru saja lahir dari pemekaran wilayah induknya.
Mereka juga mengenang jasa para tokoh lain yang dulu berjuang bahu-membahu mewujudkan Samosir menjadi kabupaten tersendiri. Nama-nama seperti Dr. Benny Pasaribu, Tagor Lumban Raja, Kolonel Harianja, dan Manaek Sinaga sering disebut dalam percakapan. Tak ketinggalan, disebutkan pula peran para tokoh lokal dari tingkat kabupaten hingga kecamatan yang bersatu padu demi satu tujuan: kemajuan Bona Pasogit, sebutan khas yang penuh kasih sayang untuk tanah kelahiran mereka.
Pada kesempatan berharga itu, dilakukan pula sesi wawancara mendalam bersama awak media Internationalmedia.id. Dalam sesi tersebut, pembicaraan tidak hanya berputar pada masa lalu, tetapi juga menyoroti sejarah awal berdirinya kabupaten hingga merumuskan arah pembangunan yang harus ditempuh di masa depan agar Samosir semakin maju dan berdaya saing.
Ir. Sahat Maruli Sinaga, sebagai inisiator utama, menuturkan bahwa seluruh perjuangan keras untuk pemekaran daerah puluhan tahun silam tidak lain dilandasi oleh harapan besar. Ia menginginkan agar masyarakat Samosir dapat menikmati kehidupan yang lebih sejahtera, memiliki akses layanan publik yang lebih baik, serta membuka peluang ekonomi yang lebih luas dan berkeadilan bagi seluruh warga.
Sementara itu, Dr. Wilmar E. Simandjorang memberikan pandangan yang lebih tajam dan realistis mengenai kondisi saat ini. Menurutnya, perjalanan Samosir telah berlangsung selama 22 tahun terakhir, namun laju pembangunan dirasakan masih berjalan apa adanya. Ia menegaskan bahwa sudah saatnya Samosir tidak sekadar berjalan, tetapi harus mampu melompat jauh ke depan melalui inovasi, kreasi, dan terobosan cerdas dari pemerintah daerah.
“Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat serta memperkuat struktur perekonomian daerah,” tegas Wilmar, mengingatkan bahwa kemandirian ekonomi adalah kunci utama kemajuan sebuah daerah otonom.
Dalam diskusi yang mendalam tersebut, para tokoh juga sepakat untuk menyoroti masalah budaya dan persepsi masyarakat. Ada sejumlah stigma negatif yang masih melekat dan dianggap menghambat kemajuan, seperti anggapan “Ndang parsahalian” atau ketidaksalingpedulian, serta karakter yang digambarkan dengan istilah “Hosom, teal dohot late”. Hal ini dianggap harus diubah menjadi semangat gotong royong.
Selain persoalan sikap, potensi sumber daya alam juga menjadi bahasan utama. Wilmar menekankan bahwa kekayaan buah-buahan dan aneka ragam pangan khas Samosir yang memiliki karakteristik dan rasa istimewa belum diolah secara maksimal. Ia mengusulkan pengembangan produk dengan diferensiasi dan standar kualitas tinggi agar produk lokal menjadi daya tarik utama dan nilai jual unggulan daerah.
Wilmar juga menyampaikan pesan filosofis yang mendalam berbalok bahasa daerah, “Patangkas posisinta be — Anak ni Raja, na pina raja, unang manian pa-raja-rajahon,”. Pesan ini mengandung makna agar seluruh pemimpin dan masyarakat senantiasa menjaga kerendahan hati, memperkokoh persatuan, dan mengutamakan semangat pelayanan, bukan kekuasaan semata.
Di penghujung pertemuan yang penuh haru ini, ketiga tokoh besar tersebut menyampaikan pesan khusus dan harapan besar kepada generasi penerus. Secara khusus, mereka menitipkan pesan kepada putra-putri keturunan Toga Sinaga agar terus mempersiapkan diri menjadi pribadi yang profesional, tahan uji, berintegritas tinggi, namun tetap tidak melepaskan nilai-nilai kearifan lokal budaya Batak sebagai fondasi kepemimpinan dan pengabdian.
Mereka pun berdoa bersama, memohon kasih karunia Tuhan Yang Maha Kuasa agar di masa depan lahir pemimpin hebat dari kalangan keturunan Toga Sinaga. Pemimpin tersebut diharapkan mampu memegang tongkat estafet kepemimpinan sebagai Bupati Samosir, serta membawa daerah ini ke arah yang lebih baik, lebih maju, sejahtera, bermartabat, namun tetap berakar kuat pada budaya dan nilai luhur leluhur.
Pesan persaudaraan juga disampaikan secara luas kepada seluruh keturunan marga Sinaga yang tersebar di mana saja, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Ir. Saibun Sinaga atau yang akrab disapa A. Tambos, menyampaikan salam persatuan, “Tarlumobi ma tu hita pomparan marga Sinaga dohot boru-bere nang ibebere. Damailah kita semua, marsiamin aminan ma dibagasan las niroha,”. Ajakan ini mengandung makna agar seluruh keluarga besar Sinaga terus berbuat kebaikan dan menebar kedamaian bagi sesama, terutama bagi masyarakat Samosir.
Dalam kesempatan ini juga kembali diingat dan dituliskan kembali jejak sejarah panjang peran Dr. Wilmar E. Simandjorang. Namanya tercatat emas dalam sejarah karena pada tahun 2003, masyarakat Samosir dikejutkan oleh penunjukannya sebagai Penjabat Bupati melalui keputusan Presiden RI atas usulan Menteri Dalam Negeri. Saat itu, latar belakang Wilmar yang berasal dari dunia industri dan perencanaan pembangunan dianggap tepat untuk meramu masa depan daerah baru ini.
Salah satu prestasi bersejarah Wilmar yang tak terlupakan adalah keberhasilannya mengamankan bangunan Rumah Parsanggarahan Pangururan pada tahun 2004. Bangunan bergaya arsitektur Melayu yang menjadi ikon Kota Pangururan itu berhasil ia jadikan rumah dinas sekaligus pusat pemerintahan pertama Kabupaten Samosir. Bangunan ini memiliki nilai sejarah tinggi sejak zaman kolonial hingga masa kemerdekaan.
Nilai sejarah bangunan itu begitu tinggi sehingga Wilmar menilai Rumah Parsanggarahan layak diusulkan sebagai situs sejarah yang harus dilindungi dan dilestarikan. Ia bahkan telah merancang persiapan administrasi dan regulasi untuk pelestarian itu, meski masa jabatannya yang hanya berlangsung 1 tahun 9 bulan membuat rencana besar tersebut belum sempat diselesaikan sepenuhnya.
Semasa memimpin, Dr. Wilmar mengusung paradigma pembangunan yang sangat terkenal hingga kini, yaitu konsep “Samosir Membangun”. Inti dari konsep ini adalah kolaborasi; keyakinan bahwa tidak ada satu kelompok pun yang mampu membangun Samosir sendirian, melainkan harus berjalan beriringan dengan semangat gotong royong seluruh elemen masyarakat.
Ia juga dikenal dengan prinsip kerjanya yang unik dan berwawasan jauh ke depan, yakni “Mission Driven, bukan Budget Driven”. Artinya, setiap program kerja harus didasarkan pada kebutuhan nyata dan misi pembangunan daerah, bukan sekadar bergantung pada besar kecilnya anggaran yang tersedia. Prinsip ini mendorong efisiensi dan efektivitas kerja birokrasi.
Gaya kepemimpinannya pun memiliki ciri khas tersendiri yang disebut PARHOBAS atau Stewardship. Prinsipnya adalah “steering rather than rowing”, yang berarti pemimpin berfungsi sebagai pengarah, pengawas, dan penguat sistem, bukan pelaku tunggal yang bekerja secara sentralistik. Ia membangun sistem pemerintahan yang ramping, efektif, dan responsif.
Struktur kelembagaan yang ia rancang saat itu terdiri dari dua asisten, dua badan utama, tujuh dinas teknis, dan empat kantor setingkat dinas. Model ini terbukti sangat pas bagi kabupaten baru karena dinamis dan mudah beradaptasi.
Di akhir pertemuan tersebut, seluruh peserta sepakat bahwa warisan pemikiran dan semangat persatuan, kolaborasi, serta pelayanan publik yang dibangun sejak masa awal harus terus dijaga dan diwariskan. Pemikiran besar Dr. Wilmar E. Simandjorang tentang “Samosir Membangun” diharapkan tetap menjadi sumber inspirasi bagi generasi penerus, agar Samosir senantiasa melangkah menjadi daerah yang maju, sejahtera, dan bermartabat di tengah keindahan Danau Toba. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS







