Pemerintah Tanggung Penuh PPN Tiket Pesawat Kelas Ekonomi Selama 60 Hari

Selasa, 28 April 2026 - 11:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Foto: Ist.

Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Foto: Ist.

Jakarta-Mediadelegasi: Pemerintah mengambil langkah sigap untuk meringankan beban masyarakat di tengah kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur). Melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 24 Tahun 2026, diterapkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) secara penuh untuk jasa angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri kelas ekonomi.

Kebijakan ini diterbitkan sebagai respons langsung atas lonjakan harga avtur yang selama ini menjadi beban utama dalam struktur biaya penerbangan. Tujuannya jelas, yaitu menjaga daya beli masyarakat agar tetap mampu mengakses moda transportasi udara yang menjadi kebutuhan vital.

“PPN yang terutang atas penyerahan jasa Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri Kelas Ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditanggung pemerintah sebesar 100% (seratus persen) untuk tahun anggaran 2026,” bunyi isi aturan tersebut yang dikutip, Senin (27/4/2026).

Dalam bagian pertimbangannya, ditegaskan bahwa pembebasan pajak ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Cakupan insentif pajak ini sangat luas, tidak hanya mencakup komponen tarif dasar atau base fare, tetapi juga meliputi biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge.

BACA JUGA:  Perbedaan Lebaran: Taat Bukan Berarti Serentak

Artinya, selama periode kebijakan ini berlaku, beban pajak sebesar 11 persen atas kedua komponen harga tersebut tidak akan dibebankan lagi kepada penumpang. Seluruh biaya pajak akan ditanggung langsung oleh negara melalui mekanisme APBN.

Insentif fiskal ini memiliki masa berlaku yang spesifik. Kebijakan ini berlaku untuk pembelian tiket dan periode penerbangan yang dilakukan dalam jangka waktu 60 hari terhitung sejak peraturan ini mulai berlaku secara resmi.

Meskipun mendapatkan fasilitas pembebasan pajak, pihak maskapai penerbangan sebagai Pengusaha Kena Pajak tetap memiliki kewajiban administrasi. Mereka diwajibkan tetap membuat faktur pajak atau dokumen yang dipersamakan, serta melaporkannya dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPN sesuai ketentuan yang berlaku.

Menanggapi langkah pemerintah ini, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memberikan analisisnya. Menurut dia, dampak kebijakan ini terhadap perekonomian nasional secara umum dinilai relatif terbatas.

“PPN DTP tidak terlalu membebani APBN dan menekan inflasi, mengingat nilai yang relatif sangat kecil dan hanya berlaku selama 60 hari. Dampak terhadap aktivitas ekonomi juga tidak akan signifikan,” ujar Wijayanto kepada awak media, Selasa (28/4/2026).

BACA JUGA:  Usulan Hentikan Latsarmil: Komisi I DPR Minta Materi Pelatihan Calon Manajer Kopdes Lebih Relevan

Ia menilai dampaknya terbatas karena sebagian besar konsumen penerbangan saat ini didominasi oleh pegawai instansi pemerintah (ASN) dan korporasi yang cenderung tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga tiket dibandingkan masyarakat umum.

Selain itu, Wijayanto juga menyoroti potensi manfaat yang mungkin tidak sepenuhnya dinikmati oleh penumpang. Ada kemungkinan bahwa penurunan harga akibat penghapusan pajak tersebut tidak sepenuhnya diturunkan ke konsumen.

“Kemudian, penurunan harga sekitar 10% tersebut, tidak semuanya akan dinikmati oleh penumpang, perusahaan penerbangan akan menahan penurunan harga hingga kurang dari 10%, sehingga mereka menikmati margin lebih besar,” pungkasnya menjelaskan kemungkinan adanya penambahan keuntungan bagi maskapai dari kebijakan ini. Meski demikian, langkah ini tetap dianggap sebagai upaya positif pemerintah dalam menjaga momentum ekonomi di tengah tekanan biaya operasional yang tinggi. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ditemani Mbak Ayang, Jokowi Bawa Ijazah Asli ke Sidang Roy Suryo
Jokowi Ungkap Momen Pertama Tahu Tudingan Ijazah Palsu di Sidang PN Jaktim
Jokowi Tunjukkan Ijazah UGM di Sidang Roy Suryo, Jawab Isu Ijazah Palsu
Prabowo Digadang Godok 10 Nama Calon Wapres Pengganti Gibran Rakabuming Raka
Yusril Ungkap Penyadapan Presiden Prabowo oleh Listyo Sigit Mengarah ke Indikasi Makar
Prabowo Resmi Pecat Listyo Sigit dari Jabatan Kepala Staf Kepresidenan
Yusril Tegaskan Penyelidikan Kasus Penyadapan Listyo Sigit Tanpa Pandang Bulu
Prabowo Minta Kasus Penyadapan Usut Transparan dan Objektif kepada Kapolri
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 12:04 WIB

Ditemani Mbak Ayang, Jokowi Bawa Ijazah Asli ke Sidang Roy Suryo

Kamis, 5 November 2026 - 11:47 WIB

Jokowi Ungkap Momen Pertama Tahu Tudingan Ijazah Palsu di Sidang PN Jaktim

Kamis, 5 November 2026 - 11:17 WIB

Jokowi Tunjukkan Ijazah UGM di Sidang Roy Suryo, Jawab Isu Ijazah Palsu

Rabu, 4 November 2026 - 17:03 WIB

Prabowo Digadang Godok 10 Nama Calon Wapres Pengganti Gibran Rakabuming Raka

Rabu, 4 November 2026 - 16:40 WIB

Yusril Ungkap Penyadapan Presiden Prabowo oleh Listyo Sigit Mengarah ke Indikasi Makar

Berita Terbaru