Medan-Mediadelegasi: Memasuki tahun 2026, tantangan dunia pendidikan tinggi semakin kompleks dengan dominasi Kecerdasan Buatan (AI) dan krisis kebenaran informasi. Menanggapi fenomena ini, Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UIN Sumatera Utara (SPI UIN SU) muncul sebagai solusi intelektual yang paling relevan bagi Generasi Z.
Dr. Suheri Harahap, M.Si, Dosen FIS UIN SU, menegaskan bahwa mempelajari sejarah di era digital bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan metode strategis untuk melatih daya kritis dan memverifikasi hoaks.
4 Alasan SPI FIS UIN SU Menjadi Pilihan Utama
Untuk menghadapi disrupsi teknologi, SPI FIS UIN SU mendefinisikan ulang kurikulum sejarah melalui empat pilar utama:
Integrasi Humaniora Digital: Mahasiswa tidak hanya berkutat dengan arsip lama, tetapi dilatih menggunakan teknologi untuk digitalisasi sejarah, pemetaan historis, dan komunikasi data agar tidak terdistorsi informasi modern.
Laboratorium Lapangan Barus: Sebagai episentrum awal Islam di Nusantara, Barus menjadi lokasi riset empiris. Melalui program Rihlah Sejarah, mahasiswa mempraktikkan langsung pembacaan epigrafi dan analisis jalur rempah global.
Baca Juga : https://mediadelegasi.id/pembinaan-atlet-sumut-diperkuat-bobby-nasution-menuju-2028/
Aktivisme dan Analisis Sosial: Melalui ekosistem Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), mahasiswa diajak peka terhadap krisis kontemporer, termasuk kajian sejarah bencana sebagai landasan mitigasi sosial.
Kredibilitas Akademik Tinggi: Budaya riset yang ketat di bawah bimbingan pakar seperti Prof. Dr. Hasan Asari, M.A., memastikan lulusan memiliki ketajaman analitis yang tidak bisa digantikan oleh algoritma mesin.
Navigasi Masa Depan di Tengah Arus Digital
Memilih prodi SPI FIS UIN SU merupakan manuver taktis bagi mereka yang menolak kehilangan identitas di tengah arus digitalisasi. Kemampuan membedah motif sosial dan menyajikan narasi kebenaran berbasis bukti adalah keterampilan mutlak yang sangat dibutuhkan di sektor kebudayaan, jurnalisme, hingga industri kreatif saat ini.
“Di era AI, kemampuan menganalisis konteks peradaban adalah keterampilan yang tidak bisa diotomatisasi. SPI FIS UIN SU adalah pijakan intelektual paling logis,” ujar Dr. Suheri Harahap.
Penulis: Dr. Suheri Harahap, M.Si (Dosen FIS UIN SU). D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.






