Jakarta-Mediadelegasi : Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar baru-baru ini menekankan betapa pentingnya memperkuat kapasitas daerah dalam upaya mewujudkan ekonomi restoratif dan berkelanjutan. Hal ini bertujuan untuk membangun ekosistem yang mandiri di setiap wilayah Indonesia.
Dalam keterangan pers yang diterima pada hari Kamis, Irene Umar menyatakan, “Sejak awal, Kementerian Ekonomi Kreatif percaya bahwa pembangunan harus dimulai dari daerah. Jika bisa dimulai dari desa, hasilnya akan jauh lebih kuat. Indonesia terlalu luas untuk hanya terpusat di kota-kota besar.”
Menurutnya, prinsip kemandirian juga perlu diterapkan dalam pengelolaan energi dan sumber daya alam. Setiap daerah harus didorong untuk mengidentifikasi tiga potensi unggulan yang menjadi kekhasan lokal, mencakup potensi manusia, budaya, dan sumber daya alam. Pemetaan aset daerah ini sangat penting agar pengembangan ekonomi kreatif di daerah lebih terarah dan memberikan dampak yang signifikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Irene menambahkan, jika setiap daerah mampu mengenali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya, hal ini akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang dimulai dari tingkat daerah. Hal ini sejalan dengan program prioritas yang tertuang dalam Asta Cita Ekraf.
“Kemandirian pangan bukan berarti harus berskala nasional. Itu dimulai dari tingkat terkecil—dari rumah, desa, kota, hingga provinsi—baru akhirnya menjadi kekuatan nasional. Negara kita ini sangat kaya, tapi seringkali kita tidak menghargai kekayaan sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wamenekraf Irene menegaskan pentingnya story-nomics atau ekonomi berbasis narasi. Tujuannya adalah agar produk kreatif Indonesia dapat lebih dikenal di pasar global, sekaligus sebagai wujud menghargai diri dan lingkungan.
Pada kesempatan tersebut, Irene juga memberikan apresiasi terhadap kegiatan Kampus Bambu Komodo yang digagas oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa, 28 Oktober 2025.
Irene menyoroti peran penting perempuan sebagai motor penggerak rumah tangga dan ekonomi komunitas. Selain itu, ia juga mengapresiasi inovasi sepeda bambu karya masyarakat lokal sebagai simbol kolaborasi dan kreativitas lintas sektor.
“Kegiatan ini bukan hanya tentang produk bambu, tetapi tentang kepercayaan dan kolaborasi. Kita perlu mendengar langsung dari masyarakat, karena tanpa memahami masalah di lapangan, solusi tidak akan lahir. Mari kita terbuka, berkolaborasi, dan bergerak bersama,” imbuhnya.
Kegiatan Kampus Bambu Komodo ini menjadi wujud nyata kontribusi sektor ekonomi kreatif dalam memperkuat ekosistem kreatif nasional.
Hal ini selaras dengan semangat Asta Cita Ekraf yang mendorong penciptaan lapangan kerja berkualitas, penguatan ekonomi daerah, dan kemandirian berbasis potensi lokal.
Dengan adanya inisiatif seperti ini, diharapkan setiap daerah di Indonesia dapat lebih mandiri dan mampu mengembangkan potensi ekonomi kreatifnya masing-masing. Dukungan dari pemerintah pusat dan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi kunci untuk mewujudkan visi ekonomi restoratif dan berkelanjutan di seluruh Indonesia. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.












