Medan-Mediadelegasi: Ruas Jalan Veteran Pasar 9, Desa Manunggal, Kecamatan Helvetia, Kabupaten Deliserdang kini menjadi ladang maut yang meresahkan. Lubang-lubang besar tak terawat sudah memakan korban kecelakaan beruntun, namun perbaikan sungguhan baru akan digarap bulan depan, Agustus 2026.
Keterlambatan yang tak masuk akal ini akhirnya memaksa Dinas Bina Marga Bina Konstruksi dan Tata Ruang (BMBKCK) Provinsi Sumatera Utara buka suara. Namun, yang disampaikan bukan janji perbaikan segera, melainkan sekadar permohonan maaf yang terasa terlambat bagi warga yang sudah menderita.
Kepala Dinas BMBKCK Sumut, Chandra Dalimunthe, memastikan pekerjaan baru akan dimulai Agustus nanti dengan metode pembetonan. “Bulan Agustus 2026 itu akan dikerjakan perbaikan jalan dengan pembetonan,” ujarnya singkat, Senin (27/7/2026).
Alasan yang dikemukakan pun terdengar klise: proses perencanaan masih berjalan dan belum boleh dilaksanakan di lapangan. Padahal warga sudah berbulan-bulan meminta perhatian.
“Memang kita tidak bisa buru-buru, karena harus ada tahapan yang dilakukan,” dalih Chandra. Padahal nyawa melayang tak mengenal birokrasi yang berbelit-belit.
Mewakili instansi, ia akhirnya meminta maaf kepada seluruh masyarakat. Namun, permintaan maaf tak akan mampu mengembalikan waktu yang hilang atau luka yang sudah dialami korban kecelakaan.
“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat atas belum dilakukannya pengerjaan perbaikan jalan di lokasi itu,” katanya.
Pemerintah berjanji nantinya jalan akan dibeton agar kuat menahan beban kendaraan berat dan tak mudah rusak lagi. Sayangnya, janji manis itu baru bisa dinikmati jika bulan berganti.
Chandra pun memohon kesabaran warga. Padahal kesabaran masyarakat sudah menipis melihat kerusakan yang dibiarkan menganga begitu lama.
Ia juga mengutip arahan Gubernur Bobby Nasution yang memerintahkan pemetaan menyeluruh jalan rusak. Pertanyaannya, berapa lama lagi warga harus menunggu hasil pemetaan itu terealisasi?
Kondisi memprihatinkan ini ternyata sudah memancing kemarahan warga dan organisasi kepemudaan. Tak mau diam menunggu birokrasi bergerak, mereka turun tangan sendiri menimbun lubang menggunakan tanah, pasir, dan batu pecah secara swadaya.
Aksi nyata warga ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian rakyat jauh lebih cepat bergerak dibanding kecepatan birokrasi yang lambat merespons nyawa yang terancam. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Miranda
Editor : Alan






