Jakarta-Mediadelegasi : Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami erupsi dahsyat pada Selasa (17/6/2025) pukul 17.35 WITA, memuntahkan kolom abu vulkanis setinggi 10.000 meter dari puncak. Erupsi ini menyebabkan 1.161 keluarga atau 4.088 jiwa mengungsi dan tersebar di pos lapangan serta mengungsi secara mandiri.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa BNPB dan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan, pendataan, pembangunan hunian sementara (huntara), serta pendistribusian bantuan logistik untuk mendukung kebutuhan pengungsi. Status Gunung Lewotobi Laki-Laki saat ini berada pada Level IV atau “Awas”.
Masyarakat diimbau tidak beraktivitas dalam radius 7 hingga 8 km dari puncak kawah untuk menghindari bahaya abu vulkanik dan potensi banjir lahar hujan jika turun hujan dengan intensitas tinggi. Abdul Muhari menjelaskan bahwa jumlah pengungsi bertambah akibat erupsi meskipun sebagian besar wilayah dalam zona bahaya sudah tidak lagi dihuni.
Aktivitas ekonomi masyarakat yang dilakukan di area tersebut masih berlangsung, meskipun kawasan rawan bahaya saat ini sudah tidak dihuni. Selain itu, jalur utama yang menghubungkan Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Sikka terganggu akibat hujan kerikil dampak dari erupsi.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan bahwa kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal menyebar ke hampir seluruh penjuru mata angin. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 47,3 mm dan durasi sementara kurang lebih enam menit 53 detik.
Dampak erupsi juga dirasakan pada sektor transportasi udara, dengan beberapa maskapai membatalkan penerbangan dari dan menuju tiga bandara di Pulau Flores. Masyarakat yang terdampak hujan abu disarankan menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk menghindari bahaya abu terhadap sistem pernapasan.
BNPB bersama Badan Geologi Kementerian ESDM terus memantau aktivitas vulkanik secara intensif dan memastikan bahwa pembaruan informasi akan terus disampaikan secara berkala. Koordinasi dengan pemerintah daerah juga terus dilakukan dalam fase tanggap darurat ini.
Pemerintah meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Dengan upaya penanganan yang intensif dan terpadu, diharapkan kebutuhan pengungsi dapat dipenuhi dengan baik






