Daya Beli Masyarakat Menurun, Rojali dan Rohana Jadi Fenomena di Pusat Perbelanjaan

Rabu, 30 Juli 2025 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi pusat perbelanjaan
(Foto:Ist)

ilustrasi pusat perbelanjaan (Foto:Ist)

Jakarta-Mediadelegasi: Baru-baru ini, dua istilah baru muncul di media sosial, yaitu Rojali dan Rohana, yang mengindikasikan penurunan daya beli masyarakat.

Rojali adalah singkatan dari “rombongan jarang beli”, yang merujuk pada sekelompok orang yang datang ke pusat perbelanjaan tanpa berniat membeli apa-apa.

Mereka hanya berjalan-jalan, melihat-lihat, berfoto, atau menikmati fasilitas pusat perbelanjaan. Ciri-ciri Rojali termasuk datang bersama teman atau keluarga dalam jumlah banyak, menghabiskan waktu lama di area publik, tidak melakukan pembelian, dan menggunakan fasilitas gratis seperti Wi-Fi atau pendingin ruangan.

Sementara itu, Rohana belum memiliki makna resmi, tetapi warganet menafsirkannya sebagai “rombongan hanya nanya-nanya” atau “rombongan hanya narsis”. Fenomena Rojali dan Rohana ini bukan hal baru, tetapi intensitasnya semakin meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

BACA JUGA:  Garuda Fans, Siapkan Diri! Tiket Pertandingan Timnas Indonesia vs China Sudah Bisa Dibeli

Menurut Ketua Umum APPBI Alphonsus Widjaja, fenomena ini sudah terjadi sejak 2024 dan disebabkan oleh penurunan daya beli masyarakat. Ia menyarankan pemerintah untuk memberikan stimulus atau insentif yang sifatnya langsung untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

Psikolog Kasandra Putranto menjelaskan bahwa fenomena Rojali dan Rohana muncul karena faktor hierarki kebutuhan manusia. Kunjungan ke pusat perbelanjaan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan sosial dan aktualisasi diri.

Kasandra juga menyebutkan bahwa mekanisme perlindungan harga diri juga menjadi salah satu penyebab fenomena ini. Seseorang mungkin berpura-pura tertarik untuk membeli sesuatu untuk menghindari rasa malu atau rendah diri di mata orang lain.

Fenomena Rojali dan Rohana ini menjadi perhatian banyak orang karena dapat mempengaruhi bisnis dan ekonomi. Pusat perbelanjaan perlu memahami perilaku konsumen dan menyesuaikan strategi pemasaran untuk meningkatkan penjualan.

BACA JUGA:  Prabowo Ungkap Angka 8 Selalu Muncul dalam Hidupnya: Ada Luhut di Balik Asal-usulnya

Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena Rojali dan Rohana semakin meningkat, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Mereka lebih suka menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan untuk bersosialisasi dan mencari hiburan daripada membeli barang.

Dengan memahami penyebab fenomena Rojali dan Rohana, kita dapat mencari solusi untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan meningkatkan penjualan di pusat perbelanjaan. Pemerintah dan pelaku bisnis perlu bekerja sama untuk menciptakan strategi yang efektif untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati Langkat Syah Afandin Di OTT KPK
Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax
Nama Raffi Ahmad Terseret Dalam Kasus Dugaan Suap Importasi Barang di Bea Cukai
​Kurs Rupiah Terpuruk di Angka Rp18.000, Hasto Kristiyanto Kritik Keras Manajemen Pemerintahan
Tuntut Kepastian Operasional, Investor Dapur SPPG di Wilayah 3T Geruduk Kantor BGN
Rupiah Hancur! Tembus Rp18.175 per Dolar AS
Korlantas Polri Memutuskan Menunda Pelaksanaan Operasi Patuh 2026
Mulai 8 Hingga 21 Juni 2026 Operasi Patuh Digelar Serentak se-Indonesia, Nomor Plat Kendaraan Jadi Prioritas Utama
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 Juli 2026 - 09:17 WIB

Bupati Langkat Syah Afandin Di OTT KPK

Rabu, 10 Juni 2026 - 07:47 WIB

Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:03 WIB

Nama Raffi Ahmad Terseret Dalam Kasus Dugaan Suap Importasi Barang di Bea Cukai

Selasa, 9 Juni 2026 - 09:30 WIB

​Kurs Rupiah Terpuruk di Angka Rp18.000, Hasto Kristiyanto Kritik Keras Manajemen Pemerintahan

Selasa, 9 Juni 2026 - 08:26 WIB

Tuntut Kepastian Operasional, Investor Dapur SPPG di Wilayah 3T Geruduk Kantor BGN

Berita Terbaru