Janda Sejak Bayinya 4 Hari, Kini Kehilangan Anak 9 Bulan

Janda
Fitri (35), Seorang Ibu Kehilangan Bayi Berusia 9 Bulan Diduga Tidak Mendapatkan Penangan Medis di RS Citra Medika Tembung. (Foto: Dok. Media Delegasi)

Medan-Mediadelegasi: Duka mendalam menyelimuti seorang janda bernama Fitri (35), warga Bandar Khalifah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Bayinya yang berusia 9 bulan meninggal dunia setelah diduga tidak mendapatkan penanganan medis yang memadai di RS Citra Medika Tembung.

Menjadi Janda Disaat Usia Bayi Empat Hari

Tragedi ini semakin memilukan setelah terungkap kondisi kehidupan Fitri. Ia telah menjadi janda sejak anaknya baru berusia empat hari setelah dilahirkan, menyusul meninggalnya sang suami. Sejak saat itu, Fitri harus membesarkan anaknya seorang diri dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas.

Saat bayinya mengalami kondisi kesehatan yang memburuk dan membutuhkan pertolongan medis segera, Fitri dengan penuh harapan membawa anaknya ke RS Citra Medika Tembung. Namun, menurut pengakuan Fitri, pihak rumah sakit diduga meminta uang sebesar Rp500 ribu sebagai uang muka, dengan alasan bayi tersebut tidak memiliki kartu BPJS maupun terdaftar dalam program Universal Health Coverage (UHC).

Bacaan Lainnya

“Dibilang harus ada uang dulu karena tidak ada BPJS,” ujar Fitri dengan mata berkaca-kaca, menggambarkan betapa hancurnya hatinya saat itu.

Karena tidak mampu memenuhi permintaan tersebut, Fitri terpaksa membawa bayinya keluar dari rumah sakit dan berusaha mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan lain yang mungkin bisa memberikan bantuan tanpa persyaratan biaya yang memberatkan. Namun nahas, bayi malang itu menghembuskan napas terakhirnya di tengah perjalanan, sebelum sempat mendapatkan pertolongan medis yang dibutuhkan.

Baca Juga : https://mediadelegasi.id/relawan-parhobas-bobby-gercep-dinkes-sumut-masih-di-tempat/

Kisah seorang ibu yang telah kehilangan suami sejak bayinya baru berusia empat hari, kini kembali kehilangan anak satu-satunya yang sangat dicintai, telah menyentuh empati masyarakat luas. Peristiwa tragis ini memunculkan sorotan tajam terhadap kualitas pelayanan rumah sakit, khususnya dalam penanganan pasien darurat dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi.

Pos terkait