JK menegaskan tidak ada niat sedikit pun untuk menista agama mana pun melalui perbandingan istilah tersebut. Baginya, kedua istilah itu memiliki kemiripan makna dalam konteks pengorbanan, meski cara dan latar belakang teologisnya tentu memiliki perbedaan sesuai ajaran masing-masing.
“Saya mendamaikan konflik-konflik ini, apakah mungkin saya menista agama? Saya mempertaruhkan jiwa saya dengan terjun langsung ke daerah konflik tersebut,” tegas JK. Ia mengingatkan rekam jejaknya sebagai mediator perdamaian yang selama ini berupaya memadamkan api perselisihan di tanah air.
Ia menyayangkan adanya laporan dari DPP GAMKI dan organisasi lainnya yang menilai pernyataannya keliru dalam memahami ajaran agama tertentu. Menurut JK, ada kesalahpahaman dalam menangkap esensi pidatonya yang sebenarnya bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar tidak terjebak konflik serupa.
Pihak JK menduga bahwa pelaporan ini merupakan upaya pembungkaman terhadap dirinya yang belakangan vokal menyuarakan isu-isu sensitif lainnya. Meski demikian, ia menyatakan akan mengikuti proses hukum yang berlaku sambil tetap mempertahankan kebenaran dari apa yang ia sampaikan.
Ceramah di UGM tersebut sejatinya menguraikan berbagai jenis konflik di Indonesia, mulai dari ideologi di Madiun, sengketa wilayah di Timor Timur, hingga masalah ekonomi di Aceh. Isu agama hanya dibahas singkat sebagai salah satu faktor pemicu yang paling ganas dan merusak tatanan sosial.
Kini, kasus yang menyeret nama mantan Wapres ini menjadi perhatian publik secara luas di tengah suasana bulan suci. Banyak pihak berharap agar persoalan ini dapat diselesaikan melalui dialog yang konstruktif demi menjaga kerukunan antarumat beragama di Indonesia yang majemuk. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.







