KPK Usut Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024, Kerugian Negara Ditaksir Capai Rp1 Triliun

Kamis, 14 Agustus 2025 - 12:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KPK Usut Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024. (Foto : Ist.)

KPK Usut Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024. (Foto : Ist.)

Jakarta-Mediadelegasi : Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah gencar mengusut kasus dugaan korupsi dalam pengelolaan kuota haji tahun 2024. Kasus ini menjadi sorotan publik karena nilai kerugian negara yang diperkirakan mencapai angka fantastis, yaitu lebih dari Rp1 triliun.

“Jadi angka yang didapatkan dari hitungan awal adalah lebih dari Rp1 triliun,” ungkap juru bicara KPK, Budi Prasetyo, di Gedung Merah Putih KPK, Senin (11/08/2025).

Meskipun KPK telah memiliki perhitungan awal terkait kerugian negara, Budi menjelaskan bahwa pihaknya tetap berkoordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mendapatkan perhitungan yang lebih detail dan komprehensif.

“Tentu nanti BPK akan menghitung secara lebih detail lagi,” kata Budi, menunjukkan keseriusan KPK dalam menangani kasus ini dengan melibatkan lembaga terkait.

Dalam proses penyidikan yang sedang berjalan, KPK telah mengambil langkah tegas dengan mencegah mantan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas untuk bepergian ke luar negeri. Pencegahan ini dilakukan untuk memastikan yang bersangkutan tidak melarikan diri dan dapat bekerja sama sepenuhnya dalam proses hukum.

Selain Yaqut, KPK juga turut mencegah dua orang lainnya untuk bepergian ke luar negeri, yaitu mantan staf khusus Yaqut, Ishfah Abidal Aziz (IAA), dan pemilik Maktour, Fuad Hasan Masyur (FHM). Pencegahan ini berlaku selama enam bulan, dimulai sejak 11 Agustus 2025.

BACA JUGA:  KPK Lakukan OTT di Sulawesi Tenggara, Bupati Terjaring

“Pada 11 Agustus 2025, KPK telah mengeluarkan Surat Keputusan tentang larangan bepergian ke luar negeri,” ucap Budi Prasetyo, menegaskan komitmen KPK dalam menindaklanjuti kasus ini secara serius.

Kasus dugaan korupsi kuota haji ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Pada tahun 2013, KPK di era Abraham Samad juga pernah mengusut kasus serupa yang melibatkan penyelenggaraan dana haji.

Dalam kasus tersebut, mantan Menag Suryadharma Ali ditetapkan sebagai tersangka terkait pengadaan barang dan jasa haji di Kementerian Agama tahun anggaran 2012-2013. Nilai dana haji yang dikelola saat itu juga mencapai lebih dari Rp1 triliun.

Suryadharma diduga melanggar Pasal 2 Ayat 1 atau Pasal 3 UU No 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi, karena secara melawan hukum atau menyalahgunakan kewenangannya dalam menunjuk orang-orang tertentu yang tidak memenuhi persyaratan sebagai Petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

Selain itu, Suryadharma juga diduga mengangkat Petugas Pendamping Amirul Hajj tidak sesuai ketentuan, menggunakan dana operasional menteri (DOM) tidak sesuai peruntukannya, serta mengarahkan tim penyewaan perumahan haji dan memanfaatkan sisa kuota haji tidak sesuai ketentuan.

BACA JUGA:  Ramalan Zodiak Besok 25 Maret 2025: Aquarius, Leo, Libra, Gemini

Akibat perbuatannya, negara diduga mengalami kerugian sebesar Rp27,283 miliar dan SR 17,967 juta.

Wakil Kepala Badan Penyelenggara Haji (BP Haji), Dahnil Azhar Simanjuntak, mengakui adanya praktik kartel dalam pengelolaan haji di Indonesia selama ini. Hal ini menjadi perhatian serius dari pemerintah, terutama Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan agar pengelolaan haji harus bebas dari korupsi dan akuntabel.

“Karena memang ada fakta bahwasanya pengelolaan haji itu ada kartel,” ujar Dahnil, mengungkapkan realitas yang selama ini menjadi masalah dalam penyelenggaraan haji di Indonesia.

Dahnil menambahkan bahwa kartel haji tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga melibatkan pihak-pihak di luar negeri. “Ada kartel haji baik di luar negeri maupun di Indonesia. Nah, itu yang perlu dibersihkan dan dituntaskan,” tegasnya.

Mulai tahun 2026, penyelenggaraan haji Indonesia akan berada di bawah kewenangan BP Haji. Diharapkan, dengan perubahan ini, pengelolaan haji akan menjadi lebih transparan, akuntabel, dan bebas dari praktik korupsi yang merugikan negara dan masyarakat. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Beri Izin Ruang Udara, Malaysia Tawarkan Bantuan Pemadaman Karhutla
Alasan Menhut Tak Ikut Kunjungan Prabowo ke Kalimantan-Sumatera
Prabowo menghadiri akad nikah Sekretaris Pribadinya
Aksi Lepas Logo Bank Mandiri Jelang Demo Jadi Sorotan Netizen
Prabowo Subianto bertolak ke Kalimantan
Terbitkan SEMA 4/2026, MA Tutup Celah Upaya Hukum untuk Putusan Bebas
KPK Klarifikasi Kegiatan OTT di Bogor
Kementerian PKP-BGN Siapkan Rumah Bagi Keluarga Penerima MBG
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 20:37 WIB

Indonesia Beri Izin Ruang Udara, Malaysia Tawarkan Bantuan Pemadaman Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 - 20:06 WIB

Alasan Menhut Tak Ikut Kunjungan Prabowo ke Kalimantan-Sumatera

Selasa, 25 Agustus 2026 - 11:47 WIB

Prabowo menghadiri akad nikah Sekretaris Pribadinya

Senin, 24 Agustus 2026 - 21:33 WIB

Aksi Lepas Logo Bank Mandiri Jelang Demo Jadi Sorotan Netizen

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:13 WIB

Prabowo Subianto bertolak ke Kalimantan

Berita Terbaru

Foto: Dok. Mediadelegasi.

Kabupaten Deli Serdang

Belum Lupa Kasus Karo, Kini Dapur MBG Klambir Lima Dekat Kandang Ayam

Selasa, 6 Okt 2026 - 16:08 WIB